RIAUMAKMUR.COM - Bursa karbon Indonesia bisa menjadi harapan pergerakan sejumlah emiten.
"Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan OJK Nomor 14 Tahun 2023 tentang Perdagangan Karbon melalui Bursa Karbon (POJK Bursa Karbon). Aturan ini diharapkan bisa menjadi penekan efek rumah kaca," kata Community Lead IPOT, Angga Septianus, Senin (28/8/2023).
Menurutnya emiten seperti BRPT, PGEO, KEEN, dan ARKO diuntungkan adanya kabar ini.
Baca Juga: Capaian Keikutsertaan di WSS 2023 Melebihi Target Lewat Para Eksportir Berintegritas
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada minggu lalu menguat tipis sebesar 0.52% tertopang sektor basic materials yang menguat sebesar 5.45% disusul sektor transport & logistics 3.32% dan sektor energy 1,60%.
Sementara itu sektor yang menahan laju IHSG yakni sektor technology sebesar -2,63%, properties & real estate -1.06 dan sektor financials -0,56%.
Community Lead IPOT, Angga Septianus menjelaskan IHSG masih saja belum bergerak breakout dari 6.950 sampai level 7.000, di resistance langsung reject lagi dan sempat mendekati area 6.850.
Baca Juga: 30 Ribu Satuan Pendidikan Mendapat Dana BOSP Kinerja Kemajuan Terbaik Tahun 2023
"Di minggu lalu ada sektor basic materials yang mengalami kenaikan signifikan, terutama saham-saham yang terkait dengan EBT, ternyata karena ada sentimen terkait bursa karbon," tegasnya, Senin (28/8/2023).
Ia menyampaikan ada 3 sentimen utama pada minggu lalu yang memengaruhi market yakni suku bunga BI, pertemuan otoritas moneter dunia Jackson Hole Symposium dan bursa karbon Indonesia.
Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada level 5,75% dengan Suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.
"Ke depan BI memperkirakan stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap terjaga sejalan dengan perspektif positif investor terhadap prospek perekonomian indonesia, inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta imbal hasil aset keuangan domestik yang tetap menarik," tegasnya.
Terkait Jackson Hole Symposium, menurutnya, ini menjadi penting karena dianggap sebagai salah satu event para bank sentral memberikan “bocoran” terkait kebijakan moneternya ke depan. Jerome Powell diprediksi oleh mayoritas pelaku pasar akan tetap mempertahankan tone hawkishnya pada pidato di Jackson Hole nanti.