RIAUMAKMUR.COM - Kelompok LGBT awalnya dianggap sebuah gangguan mental. Namun kini hal itu tidak berlaku lagi.
Para psikolog telah menyepakati bahwa kelompoknya LGBT tidak termasuk dalam gangguan mental.
Meskipun, kelompok LGBT ini dianggap sebagai kelompok paling rentan akan didera gangguan mental.
Pemberitaan tentang kelompok LGBT kembali jadi sorotan. Hal ini setelah pihak Malaysia menyita ratusan jam tangan Swatch yang diduga ada kaitannya dengan kelompok LGBT.
CEO Swatch Group Nick Hayek juga telah menyampaikan kekecewaannya terkait hal ini.
Pihak perusahaan menyatakan bahwa warga pelangi yang mereka gunakan hanyalah untuk pesan perdamaian namun hal itu malah dianggap hal yang berbahaya.
"Jelas ini tidak ada politiknya," katanya dikutip dari The Straits Times, Rabu (24/5/2023).
Sebagaimana diketahui, awal mulanya, kelompok LGBT termasuk dalam salah satu kelompok gangguan mental.
Pada tahun 1975, asosiasi psikolog Amerika Serikat menyatakan bahwa orientasi seksual seseorang bukanlah sebuah gangguan mental.
WHO juga merencanakan untuk hapus kelompok LGBT dalam kategori gangguan mental. Kelompok ini akan diklasifikasikan menjadi ketidaksesuaian gender.
Keputusan ini dianggap perlu dirumuskan karena para psikolog menyatakan tidak ada hubungan antara orientasi dan identitasnya seksual, dengan kondisi kesehatan mental.
Sementara itu, kondisi ini dianggap masuk dalam aspek normal dari bagian seksualitas manusia.
Namun, penelitian menyatakan bahwa kelompok LGBT akan lebih berisiko untuk menderita gangguan mental.
Orang-orang yang menjadi bagian dari kelompok LGBT akan lebih mudah depresi, cemas dalam tingkat tinggi, penyalahgunaan obat terlarang, bahkan kondisi terburuknya mereka cenderung akan melakukan percobaan bunuh diri.