teknologi

Beras Sehat dan Tangguh Iklim Kerjasama Riset BRIN Mengandung Vitamin A

Minggu, 17 Desember 2023 | 09:05 WIB
Foto ilustrasi beras (Image by ImageParty from Pixabay)

RIAUMAKMUR.COM - Periset yang bertindak dalam konsorsium antara Australia National University (ANU), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan IRRI sampaikan perkembangan riset beras sehat dan tangguh iklim.

Periset Barry Pogson dari Australian National University (ANU) menjelaskan pengembangan beras sehat dan tangguh iklim dengan teknologi gen editing atau genome editing. Ini membuat beras mengandung gizi tinggi, salah satunya vitamin A dan zat besi.

Disebutnya beras ini membuat perubahan yang sangat spesifik pada rangkaian DNA organisme hidup.

Baca Juga: Bertekad Menangkan PAN di Riau, Alfedri Targetkan PAN Isi Banyak Kursi Pimpinan DPRD, dan Majukan Kader di Pilkada 2024

Perlu dikatehui kolaborasi ANU, BRIN, UGM, dan IRRI bertujuan untuk mengasah keahlian dalam mengembangkan beras sehat tahan kekeringan dengan mengenalkan teknologi genetika tradisional dan modern.

“Beras merupakan bahan pangan pokok di seluruh Asia, bahkan sebagai bahan pangan penting di dunia. Ini menjadi peluang untuk mengembangkannya menjadi lebih sehat dan lebih tangguh kekeringan,” kata Barry.

Baca Juga: Zulkifli Hasan Wajibkan Kader PAN Bersaing Sehat di Pileg 2024, Larangan Keras Praktik Bagi yang Saling Menjelekkan

Riset beras di ANU menurutnya sejauh ini telah menghasilkan lebih dari 1000 beras transgenik dengan 85 konstruksi gen berbeda. Sedangkan beras sehat tersebut mengandung vitamin A, zat besi (Fe) dan Zn.

“Beras Emas merupakan GMO yang menghasilkan beta karoten yang dibelah untuk membuat Vitamin A. Saat ini sedang dilakukan peningkatan skala dan ditanam lebih banyak lagi agar dapat dipanen setiap saat,” ujarnya optimis.

Baca Juga: Zulkifli Hasan Minta Kader PAN di Riau Bekerja Keras, Temui Pemilik Suara, Bukan Pergi ke Dukun

Ini dijelaskannya pada ICFAS 2023 yang diikuti oleh 300 peserta dan presenter dari USA, Polandia, Italia, Australia, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, India, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia dari kalangan peneliti, akademisi, industri, dan mahasiswa.

“Diskusi yang dilakukan semoga dapat menginspirasi kita untuk meningkatkan inovasi dan teknologi lebih lanjut guna mewujudkan ketahanan pangan di dunia dan siap menghadapi perubahan iklim,” pungkas Ketua penyelenggara ICFAS 2023, Satriyo Krido Wahono.

Tags

Terkini

Transaksi Cepat Tanpa Tunai? Begini Plus Minus QRIS

Minggu, 7 September 2025 | 09:38 WIB