Bapak Artificial Inteligence (AI), Dr Geoffrey Hinton pilih cabut dari perusahaan raksasa Google yang kini tengah sibuk menggalakkan teknologi AI.
Google diketahui tengah bersemangat menggalakan penggunaan AI pada banyak layanannya. Perginya tokoh yang disebut sebagai The Godfather AI ini tentu menjadi sebuah tanda tanya.
Geoffrey Hinton diketahui cabut meninggalkan pekerjaannya di Google pada pekan lalu.
Perkembangan AI memang mulai menggeliat akhir-akhir ini, sejumlah pihak menilai akan ada anacaman bagi keberlangsungan manusia dengan masifnya perkembangan AI.
Baca Juga: Ini Jadwal dan Klasemen Sementara Indonesia di Cabang Olahraga Sepak Bola Pada Sea Games 2023
Walau demikian, banyak pihak pula mendukung percepatan pengembangan teknologi kecerdasan buatan ini.
Diketahui belakangan pada cuitannya Geoffrey Hinton mengungkapkan alasannya meninggalkan perusahaan teknologi raksasa yang kini merajai sistem operasi dan teknologi mesin pencari dunia maya saat ini tersebut.
Dari cuitannya di akun media sosial Twitter mengakui bahwa sebenarnya alasan ia meninggalkan Google agar ia bisa berbicara tentang bahaya AI tanpa mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap Google.
The Godfather AI, Hinton merasa risau dengan terlalu cepatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI saat ini, yang melatarbelakangi ia hengkang dari Google.
AI dirisaukan dalam waktu dekat akan menggantikan peran kerja manusia dan membuat manusia tidak mengetahui lagi mana yang benar.
Langkah yang dilakukan Geoffrey Hinton menyiratkan jalan yang sama atas Surat Terbuka yang dilemparkan para pakar ke publik beberapa waktu lalu tentang penghentian pengembangan Artificial Inteligence dimasa sekarang ini.
Baca Juga: Tampil di Rumah Sendiri, Skuad China di Sudirman Cup 2023 Ini Bikin Ngeri
Salah satu yang menyepakati petisi ini yakni Elon Musk, namun belakangan tersiar kabar tokoh teknologi berpengaruh ini ambil bagian hanya dilatarbelakangi bisnis.
Mengutip tulisan Technologue.id yang memaparkan, Stuart Russell, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Berkeley dan salah satu penandatangan petisi tersebut, berpendapat bahwa ancaman terhadap demokrasi dan ancaman yang dapat timbul dari penyalahgunaan AI untuk menyebarkan hoax, sebenarnya sudah mungkin terjadi dengan GPT-4, Bard, dan AI Large Language Models (LLM) lainnya yang telah tersedia saat ini. Namun, mimpi buruk AI yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan yang dapat muncul dari AI generasi berikutnya.