Rangkaian Musywil, Pemuda Muhammadiyah Riau Gelar Seminar Ekonomi

photo author
Hasbullah RM, Riau Makmur
- Sabtu, 25 November 2023 | 15:48 WIB
Seminar Ekonomi dalam rangkaian Musywil Pemuda Muhammadiyah Riau.
Seminar Ekonomi dalam rangkaian Musywil Pemuda Muhammadiyah Riau.

RIAUMAKMUR.COM, PEKANBARU- Dalam rangkaian Musyawarah Wilayah (Musywil), Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah Riau, menggelar beberapa kegiatan sebelumnya, diantaranya Pra Musywil pada Ahad (19/11/2023) lalu dan Seminar Ekonomi yang digelar pada Jum'at (24/11/2023) silam.

Seminar ekonomi yang bertajuk Hilirisasi Kelapa Sawit dan Pengelolaan Migas Untuk Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Riau ini hadir lima orang narasumber.

Kelima narasumber itu adalah Wakil Ketua Komisi VII DPR RI H Eddy Suparno SH MH, ketua Umum Apkasindo Dr Ir Gulat ME Manurung, kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut Riki Rahmat Firdaus, Komisaris Utama Bank Riau Kepri Syariah H Syahrial Abdi AP MSi, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Riau Lichwan Hartono dan Rektor Umri Dr H Saidul Amin MA.

Baca Juga: Musywil Pemuda Muhammadiyah Riau, Ini Pesan Sekjend PP Pemuda Muhammadiyah, Tiga Parameter Ini Wajib Dimiliki

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah Riau, Firdaus, mengatakan, acara seminar ini merupakan bagian rangkaian dari kegiatan Musyawarah Wilayah XVII Pemuda Muhammaddiyah Riau.

“Alhamdulillah, peserta yang hadir lebih dari 180 orang, dari mulai Forkopimda Riau, Tokoh Pemuda, Penggiat NGO dan perwakilan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau dan tentunya stakeholder sawit untuk membahas mengenai manfaat sawit dan migas untuk ekonomi Riau dulu, kini dan kedepannya,” ujar Firdaus.

Perwakilan dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menghadiri acara Seminar Pemuda Muhammadiyah sebagai narasumber, untuk membahas hilirisasi kelapa sawit dan pengelolaan migas Riau demi peningkatan kesejahteraan ekonomi Masyarakat Riau.

Baca Juga: Musywil Pemuda Muhammadiyah Riau, Firdaus Minta Program Kaderisasi Harus Ditingkatkan

Dalam acara tersebut selaku narasumber, DPP APKASINDO yang diwakili Mulono Apriyanto, menyampaikan kepada peserta yang hadir, bahwa sawit itu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat terutama di Riau.

Karena sawit itu adalah sumber pencarian dari para petani dari orang tua kita dan juga dari Pemerintah.

“Khusus Riau, semakin majunya suatu daerah, awalnya dari sawit. karena Kita bisa liat daerah-daerah sebagai penghasil sawit sekarang menjadi kota yang jauh melebihi yang di daerah tersebut tidak ada sawit, itu tak terbantahkan dan secara ilmiah sudah diteliti di terbit di jurnal internasional. Hampir disemua Kabupaten Kota di Riau ada perkebunan sawit dan dampaknya adalah se Riau. Hasil penelitian Bank Indonesia Wilayah Riau dua tahun terakhir didapatkan bahwa 42-48% ditopang oleh ekonomi hulu-hilir sawit dan Nilai Tukar Petani (NTP) sektor perkebunan sawit tertinggi se Indonesia mencapai 164,17 jika dibandingkan NTP rata-rata Nasional yang hanya 107,27” ujar Mulono.

“Rahasia mengapa begitu bergeliatnya dampak ekonomi sawit di Riau adalah karena 68% perkebunan sawit di Riau dikelola oleh petani sawit” kata Mulono.

Kita harus bersyukur, Riau merupakan sentral perkebunan sawit di Indonesia dengan luas 4,172 juta hektar, ini anugerah yang diberikan Tuhan kepada Indonesia, terkhusus Riau dan faktanya Riau adalah terbesar penerima DBH sawit yaitu sebesar Rp 392 Milyar, ini kita harus syukuri dan saya yakin tahun depan akan lebih besar lagi, lanjutnya.

Dalam paparannya, Mulono juga mempaparkan tantangan tentang isu negatif yang disebar oleh kelompok tertentu yang dananya berasal dari saingan Indonesia sebagai negara produsen minyak nabati sawit terbesar di dunia.

“Isu negatif tersebut mari kita jadikan untuk meningkatkan kebermanfaatan sawit dari tiga dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi ekonomi, social dan lingkungan dan jangan terpengaruh kepada isu-isu yang dibangun secara massif, terstruktur dan sistematis” ajak Mulono.

“Andai kata sawit bisa tumbuh di Eropa maka akan lain ceritanya, mereka akan mengatakan bahwa tanaman penghasil minyak nabati selain selain sawit adalah perusak lingkungan. Jelaslah bahwa strategi yang dijalankan pengkampanye negatif sawit adalah politik dagang dan politik lingkungan” urai Mulono lebih lanjut.

Lebih lanjut Mulono mengatakan sampai kapanpun kita pasti menggunakan produk dari minyak kelapa sawit, 24 jam kita bersama sawit. Mulai bangun tidur, dan kita tidur lagi tidak pernah lepas dari material berbahan dasar sawit. Baik dari sabun, sampo, kosmetik, obat-obatan medis, minyak goreng, biodiesel dan ratusan produk lainnya tidak lepas dari sawit.

“Sebagai generasi muda dan intelektual, harapannya cuma satu mari sama-sama kita perangi yang namanya black campaign dengan bukti akademis, dengan bukti riset kita dan tentunya fakta eksisting dilapangan. Kita melawan itu harus dari sisi ada datanya, dari kondisi nyatanya, bukan katanya, mungkin, kira-kira atau rasanya, dengan demikian kampanye negatif dengan sederhana bisa tercover,”tutur Mulono mengakhiri pemaparannya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hasbullah RM

Sumber: Sawit setara

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X