PEKANBARU - Isu kapitalisme dan riba masih hangat diperbincangkan, walau pada faktanya, keduanya adalah barang lama, namun banyak dari kita yang tak sadar.
Seperti kebanyakan istilah umum kita ketahui, bahwa riba adalah bunga atau melebihkan jumlah pinjaman. Sistemnya dengan persenan ada ada selisih nilai yang dibayar untuk tujuan keuntungan.
Sedangkan kapitalisme adalah metode, cara produksi untuk tujuan keuntungan yang besar, namun dengan biaya yang minim. Bisa dengan cara menekan upah para pekerjanya.
Lalu, sadarkan kita, bahwa sesungguhnya antara riba dan kapitalisme itu saling terkait satu sama lain. Bagaimana keduanya bisa saling berhubungan?
Seorang sosiolog dari Universitas Riau Dr Ahmad Hidir, sistem kapital yang menjadi penyebab utama riba. Artinya, selama sistem kapital masih berjalan, maka riba akan terus ada.
Keduanya seperti penjual dan pembeli. Dalam realitas kehidupan umum manusia di era modern, kita selalu dihadapkan dengan kebutuhan hidup yang didasari pada biaya, uang.
Sistem kapital dalam praktiknya telah berhasil menciptakan kesenjangan sosial, bahkan sangat dalam. Ada orang yang super kaya, dan ada yang miskin ekstrem. Ini adalah fakta yang hingga kini tak terbantahkan.
Sementara kebutuhan hidup manusia baik yang kaya ataupun si miskin sama. Butuh rumah, biaya untuk berobat, pendidikan, dan lain-lain. Semua ini karena produk dari kapitalisme. Di sini lah riba hadir.
“Selama kapitalis merajalela, maka riba akan selalu hadir, karena kapitalisme menciptakan kemiskinan, antara kaya dan miskin,” kata Hidir.
Dalam kondisi seperti ini, riba hadir seolah-olah menjadi dewa penolong. Dia mengumpamakan, “Riba itu seperti orang yang kehausan di tengah laut. Minum seteguk hausnya hilang. Tapi haus akan tetap datang, dan kita tetap butuh air untuk minum. Seperti itu terus,” jelasnya.
Di zaman ini, kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan, terus mengalami kenaikan harga akibat adanya inflasi. Sedangkan di sisi lain, kebutuhan adalah hal yang wajib ada.
Sadar atau tidak, kita hidup dalam angan-angan dan terperangkap oleh iming-iming. Misal, berangan-angan ingin punya rumah, tapi harganya sangat mahal.
Lalu kita diiming-imingi dengan kredit di mana biaya yang harus dikeluarkan per bulan kecil, tapi dalam jangka waktu yang sangat lama, sehingga ada bunga yang membengkak.
Sama halnya dengan kendaraan, bahkan untuk membeli pakaian pun juga ada yang memberlakukan sistem kredit bunga seperti ini.