ekonomi-bisnis

Perjuangan Rahmi, Dari Lotek ke Dunia Tenun, Pelatihan CD RAPP Membawa Secercah Harapan Baru

Senin, 29 Januari 2024 | 09:41 WIB
Perjuangan Rahmi, Dari Lotek ke Dunia Tenun, Pelatihan CD RAPP Membawa Secercah Harapan Baru

RIAUMAKMUR.COM, PEKANBARU - Rahmi dengan penuh semangat memeriksa setiap benang pada mesin tenun kayu, memastikan bahwa motif kain yang ia hasilkan sesuai dengan gambar pada kertas kecil di depannya.

Kakinya tegas menghentak mesin, mengarahkan pergerakan sesuai keinginannya. Rekannya, yang juga fokus, melakukan tindakan serupa.

Instruktur mendekati mereka secara bergantian, memberikan petunjuk untuk memastikan kualitas hasil tenunan yang lebih baik.

Rahmi bersama empat rekannya tengah mengikuti pelatihan menenun yang difasilitasi Community Development (CD) Department,  PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Pelatihan ini digelar 15 - 27 Januari di Rumah Tenun Wan Fitri, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru.

Lima orang warga Pelalawan ini tergabung dalam kelompok Tenun Andalan. Selama pelatihan mereka diberi akomodasi lengkap dengan harapan usai pelatihan masing-masing telah mampu mengoperasikan mesin tenun dan bisa memproduksi kain tenun untuk bahan baju, kain songket dan lainnya untuk dipasarkan.

"Saya sudah mengikuti pelatihan tenun sejak 15 Januari lalu. Saya selalu semangat mengikuti semua yang diajarkan instruktur," ungkap Rahmi.

Wanita berusia 35 tahun ini bernama lengkap Rahmi Andestia. Sehari-hari ia biasa berjualan lotek dan miso. Kini ia berjuang sendirian menghidupi empat orang buah.

"Biasanya saya jualan mulai siang hingga malam hari. Suami saya sudah tidak ada. Lima bulan lalu meninggal karena tensi tinggi," katanya sembari berusaha menenangkan anak bungsunya yang mulai bosan bermain sendiri. Si bungsu memang sengaja ia bawa ke lokasi pelatihan, sedangkan kakak-kakaknya yang lain dititipkan pada keluarga di Pelalawan.

"Yang bungsu memang saya bawa. Yang sulung sudah kelas 6 SD. Dia dan yang lainnya tidak apa-apa di rumah saja. Ada keluarga yang mau menjaga," sebutnya sembari memperhatikan motif di kain tenunannya yang masih setengah jadi.

Rahmi menjadi salah satu warga Kecamatan Pangkalan Kerinci yang dinilai layak mengikuti program pelatihan dari RAPP ini. Ia masuk dalam kategori keluarga miskin ekstrem. Pelatihan ini menjadi salah satu pilihan bagi Rahmi untuk keluar dari garis kemiskinan itu.

"wanita 49 tahun ini, kain tenun bisa digambarkan sebagai cerminan orang Melayu. Motif khas Melayu yang diproduksi di rumah tenun ini seperti pucuk rebung, tampuk manggis, lebah bergayut, dan lainnya.

Rumah Tenun Wan Fitri telah mendapat banyak penghargaan dan mengikuti beberapa pameran hingga sampai ke Belanda.

Mengembangkan Ekonomi Berlatar Budaya Lokal

RAPP bekerjasama dengan Rumah Tenun Wan Fitri dalam program pelatihan tenun dengan tujuan pengentasan kemiskinan ekstrem dan pengembangan ekonomi berlatar budaya lokal.

"Kegiatan pelatihan tenun ini kita gelar selama 2 minggu, sejak 15 Januari hingga 27 Januari 2024. Pesertanya lima orang dengan latar belakang berbeda yang diantaranya berasal dari keluarga miskin ekstrem," ungkap CD Head RAPP F Leohansen Simatupang.

Halaman:

Tags

Terkini