RIAUMAKMUR.COM - Tingkat konsumsi susu perkapita di Indonesia baru mencapai angka 16,27 kilogram perkapita menurut data Basan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022.
Angka ini mendudukkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi susu dibawah rata-rata negara Asia Tenggara.
Fakta konsumsi ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika di Jakarta, Sabtu (8/7) pada acara Young Progressive Farmer Academy Frisian Flag.
Baca Juga: Pasca Denny Caknan dan Bella Bonita Resmi Menikah, Happy Asmara Unggah Postingan Galau, Aku Ikhlas
Konsumsi susu dipercaya dunia kesehatan melalui sejumlah penelitian dapat menjaga tubuh tetap prima.
Konsumsi susu yang cukup akan dapat menjaga kebutuhan nutrisi masyarakat.
Menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia didorong pada kondisi belum tercukupinya pasokan susu dalam negeri.
Baca Juga: Lanjutkan Kerjasama Pemenangan Ganjar Pranowo, Tiga Partai di Riau Akan Duduk Bersama
Saat ini pasokan bahan baku susu dalam negeri baru tersedia 20 persenan.
Sementara itu, pada tahun 2022, kebutuhan susu mencapai 4,4 juta ton sedangkan produksi susu segar baru mencapai 968.980 ton.
Angka produksi ini jauh dari kata mencukupi kebutuhan susu itu sendiri oleh masyarakat.
Baca Juga: Koalisi Pendukung Ganjar Pranowo Rapat Bersama, PPP Riau Tunggu Intruksi
"Ada bahyak hal yang menyebabkam kondisi ini terjadi, diantaranya yakni kendala-kendala yang dihadapi sektor peternakan sapi perah di tanah air antara lain adalah kecilnya skala kepemilikan sapi, lahan terbatas, mahalnya biaya pembesaran, kurangnya pemahaman terhadap good dairy farming practices.
Selain itu ada faktor lainnya yakni, rendahnya minat anak muda.
"Saat ini usia rata-rata peternak sapi perah Indonesia adalah 56 tahun, ini butuh regenerasi peternak tentunya," ungkapnya.