RIAUMAKMUR.COM - Buah bisbul, yang menjadi simbol kebanggaan Kota Bogor, kini semakin sulit ditemukan. Penurunan curah hujan di kota ini dibandingkan dengan daerah lainnya menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan buah yang terkenal ini.
Irvan Fadli Wanda, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan bahwa bisbul adalah tumbuhan berumah dua, di mana bunga jantan dan betina tumbuh pada individu yang berbeda.
Fenomena ini membuat proses penyerbukan menjadi sangat penting untuk keberlangsungan produksinya.
Baca Juga: Resep Asinan Bengkuang Nanas, Kudapan Segar dengan Sensasi Pedas Asam
Irvan menambahkan bahwa puncak panen bisbul biasanya berlangsung antara Maret hingga Mei, dan lagi antara Juni hingga September setiap tahun.
Namun, keberhasilan panen sangat tergantung pada faktor penyerbukan yang optimal.
Dia menyoroti potensi masalah dalam penyerbukan akibat penurunan jumlah agen penyerbuk seperti serangga dan lebah, yang dapat dipicu oleh iklim yang tidak menentu dan kemarau berkepanjangan.
Penurunan populasi agen penyerbuk ini berpotensi membuat pohon bisbul menghasilkan buah yang lebih sedikit.
Iklim dan cuaca berperan signifikan dalam fisiologi pohon bisbul. Kemarau yang berkepanjangan dapat mengganggu proses pembungaan dan pembuahan, yang pada gilirannya mempengaruhi hasil panen.
Selain itu, ketersediaan unsur mikro dan makro nutrisi di dalam tanah juga merupakan faktor penting.
Pemberian pupuk yang berlebihan, khususnya yang kaya nitrogen, dapat menyebabkan tajuk tanaman terlalu rimbun, sehingga menghambat proses fotosintesis yang penting untuk produksi karbohidrat.
Selain faktor lingkungan, Irvan juga menyebutkan kemungkinan faktor genetik yang dapat berperan dalam kurangnya hasil buah pada pohon bisbul.
Meskipun saat ini belum ada bukti yang cukup kuat, mutasi gen bisa menjadi salah satu penyebab yang mempengaruhi produktivitas buah.
Bisbul, yang juga dikenal sebagai buah beludru, merupakan buah khas yang identik dengan Kota Bogor.
Pada tahun 2024 ini, tanaman ini terbilang langka dan tumbuh di wilayah tropis dengan iklim basah, khususnya di dataran rendah hingga dataran menengah.