Viral Tarian THR Saat Lebaran 2025, Benarkah Mirip Tarian Yahudi Hora?

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Sabtu, 5 April 2025 | 05:19 WIB
Viral Tarian Bagi THR Lebaran Ternyata Budaya Yahudi. (tiktok/Tasyi Athasyia)
Viral Tarian Bagi THR Lebaran Ternyata Budaya Yahudi. (tiktok/Tasyi Athasyia)

RIAUMAKMUR.COM - Menjelang Hari Raya Idulfitri 2025, masyarakat Indonesia diramaikan dengan tren viral baru bernama tarian THR, atau kerap disebut “tarian pemanggil THR”.

Aksi joget ini menjadi fenomena di berbagai platform media sosial dan ramai ditiru warganet karena dianggap menghibur dan lucu.

Gerakan tarian THR cukup sederhana. Tarian dimulai dengan langkah kaki ke kanan dan ke kiri, lalu dilanjutkan dengan lompatan kecil ke depan dan ke belakang.

Baca Juga: Viral Gaya Ghibli di ChatGPT, Hayao Miyazaki: Ini Penghinaan terhadap Kehidupan dan Seni

Diakhiri dengan gerakan kaki serempak yang dinamis, tarian ini menjadi daya tarik tersendiri untuk konten-konten Lebaran.

Namun di balik keseruannya, tarian THR menuai kontroversi.

Pasalnya, banyak pihak menilai gerakan dalam tarian ini memiliki kemiripan kuat dengan Tarian Hora, sebuah tarian rakyat tradisional yang berasal dari budaya Yahudi.

Tarian Hora dikenal sebagai simbol kebahagiaan, persatuan, dan identitas budaya Yahudi.

Tarian ini biasa dibawakan dalam formasi melingkar dan diiringi lagu-lagu khas.

Dalam sejarahnya, Hora menjadi bagian penting dari pembentukan identitas bangsa Israel sejak tahun 1948.

Dikutip dari berbagai sumber, koreografer pertama di Israel menciptakan tarian rakyat ini dengan menggabungkan elemen dari berbagai budaya, termasuk tarian Hasid, Balkan, Rusia, Arab, hingga Yaman.

Hora juga kerap ditampilkan dalam pernikahan Yahudi, di mana pasangan pengantin diangkat di atas kursi sambil dikelilingi para tamu yang menari.

Kemiripan inilah yang kemudian memicu kekhawatiran sebagian masyarakat.

Beberapa tokoh dan warganet menyerukan agar tarian THR tidak diikuti, terutama oleh umat Islam, karena dinilai berpotensi sebagai bentuk penjajahan budaya secara halus.

Seruan tersebut juga dikaitkan dengan ajaran Islam, yang mengingatkan umatnya agar tidak menyerupai tradisi dari kaum lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X