Lalu 11 persen lainnya adalah bekas roket dan objek yang berkaitan dengan misi lain, seperti adaptor peluncuran dan penutup lensa.
Seseorang tentu bisa terluka bahkan terbunuh, jika sisa dari badan roket itu jatuh ke Bumi.
Analisis ini tertuang dalam sebuah makalah Astronomi Alam yang disusun oleh sarjana hukum Michael Byers dari University of British Columbia (UBC) bersama rekan-rekannya, yang diterbitkan Juli tahun lalu.
Dengan menggunakan data selama 30 tahun dari katalog satelit publik CelesTrak, tim menghitung potensi risiko terhadap kehidupan manusia selama dekade berikutnya.
Analisis mereka memperhitungkan perkiraan tingkat masuknya kembali badan roket yang tidak terkendali, orbitnya, dan proyeksi populasi dan distribusi manusia.
Para peneliti berasumsi bahwa setiap peristiwa masuk kembali menyebabkan puing-puing di area seluas lebih dari 100 kaki persegi.
Menggunakan dua metode berbeda, Byers dan timnya memperkirakan bahwa ada kemungkinan (6–10 persen) satu atau lebih korban jiwa akibat sampah luar angkasa yang jatuh dari orbit.
Ini tidak termasuk potensi peristiwa korban massal yang dihasilkan dari skenario terburuk, misalnya puing-puing yang berjatuhan menabrak pesawat yang sedang terbang, mengutip dari situs Express, Jumat, 5 Mei 2023.
Selain itu, analisis mengungkapkan bahwa distribusi orbit satelit yang ditimbulkan oleh sampah antariksa yang jatuh secara tidak proporsional lebih tinggi di belahan Bumi selatan.
Padahal sebagian besar negara penjelajah ruang angkasa terletak di utara global.
Sebagai contoh, garis lintang di mana kota-kota di belahan bumi selatan ada di Dhaka, Jakarta dan Lagos, memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar terkena badan roket yang jatuh daripada di Beijing, Moskow atau New York.***