TERMASUK Jakarta, para peneliti berasumsi setidaknya ada 3 wilayah di belahan bumi ini yang sangat berpotensi dijatuhi sampah luar angkasa.
Selain Jakarta ada daerah lainnya yang juga potensial untuk dijatuhi sampah luar angkasa, seperti Dhaka dan Lagos.
Sebab, baik Jakarta, Lagos dan Dhaka berada pada orbit belahan Bumi Selatan yang disebut 3 kali lebih berisiko akan menanggung dampak dari jatuhnya sampah luar angkasa.
Asumsi ini memang sulit untuk dipercaya, namun analisis dari hasil penelitian mengemukakan kemungkinan dari fakta itu.
Sisa-sisa dari peluncuran roket ke luar angkasa menjadi puing-puing berserakan yang disebut dengan sampah.
Puing-puing ini berpeluang 1 dari 10 untuk membunuh seseorang dalam 10 tahun ke depan.
Para peneliti menaruh perhatian sekaligus khawatir dengan hal ini.
Mereka akhirnya menyerukan agar lebih banyak upaya yang bisa dilakukan untuk menghilangkan—setidaknya mengurangi—puing-puing dari orbit.
Bahkan mungkin, sistem peluncuran roket ke luar angkasa bisa dilakukan dengan sistem yang lebih ramah dan berkelanjutan.
Diperkirakan hampir dua pertiga dari semua peluncuran ruang angkasa mengakibatkan badan roket ditinggalkan di orbit pada tahun 2020 silam.
Semua sudah tahu, kalau puing-puing yang jadi sampah luar angkasa telah menjadi ancaman bagi satelit lain—yang masih aktif, terlebih bagi satelit yang ada di permukaan Bumi.
Apalagi jika ukuran dari sampah luar angkasa itu sangat besar saat masuk kembali ke planet.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA), ada 28.000 lebih objek buatan manusia saat ini berada di garis orbit.
Dari jumlah itu 8 persennya adalah satelit yang masih beroperasi.