RIAUMAKMUR.COM – Indonesia menjadikan World Water Forum ke-10 sebagai kesempatan untuk mendalami, belajar, dan mengembangkan pengelolaan prediksi cuaca untuk menghadapi iklim ekstrem. Hal ini khususnya untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem terhadap ketahanan pangan dalam negeri.
Demikian dikatakan Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Firdaus Ali di Jakarta, Sabtu (27/4/2024).
“Kami ingin juga mendalami, belajar, dan mengembangkan lebih jauh lagi bagaimana peran dari prediksi cuaca untuk bisa kita kelola dengan baik,” ujar Firdaus.
Baca Juga: Tak Ada Larangan Warung Madura Beroperasi 24 Jam
Firdaus mengatakan bahwa cuaca dan iklim merupakan fenomena yang dapat diprediksi, berbeda dengan gempa bumi yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi dan seberapa besar kekuatannya.
Oleh karena itu, ia berharap dengan mengetahui cara mengembangkan dan mengelola data dari prediksi cuaca, Indonesia dapat mengantisipasi iklim ekstrem, serta memitigasi dampak yang dirasakan oleh masyarakat.
“Sehingga kita bisa mengantisipasi lebih tepat lagi, lebih baik lagi, di samping kita harusnya membangun infrastruktur untuk bisa mendukung pengelolaan,” kata Firdaus.
Baca Juga: PUPR Rampungkan Penataan Kawasan Pesisir Labuang sebagai Destinasi Wisata Baru di Majene
Dalam rangka memberi wadah kepada berbagai negara untuk bertukar pikiran, Indonesia mengusulkan pembangunan pusat keunggulan atau praktik terbaik untuk ketahanan air dan iklim atau Centre of Excellence on Water and Climate Resilience (COE).
“Indonesia punya fasilitas. Infrastruktur kita sudah punya, tinggal tadi kolaborasi internasional, dukungan dari para negara donor,” ucap Firdaus.
Sebelumnya, Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja mengatakan bahwa Indonesia akan mengusulkan pendirian Centre of Excellence on Water and Climate Resilience pada World Water Forum 2024 untuk menghadapi masalah tata kelola air akibat perubahan iklim.
Baca Juga: Indonesia Dorong Penetapan Hari Danau Sedunia di World Water Forum ke-10
Endra pun menyoroti keberadaan Sabo Training Center yang berlokasi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dapat menjadi bagian dari COE ke depan.
Dengan mengembangkan Sabo lebih jauh, Endra meyakini Yogyakarta dapat menjadi tempat belajar bagi negara-negara Selatan terkait tata kelola air dan ketahanan iklim.
Selain pembentukan COE, Indonesia berharap forum dapat memberikan hasil konkret mengenai pengarusutamaan pengelolaan air terpadu untuk pulau-pulau kecil atau integrated water resources management (IWRM) on small islands, serta penetapan Hari Danau Sedunia.
Artikel Terkait
Desa Pemuda dan Karang Taruna, Energi Pembangunan Desa
TP PKK Lumajang Salurkan Bantuan Kebutuhan Sandang untuk Korban Banjir di Desa Kutorenon
Pj. Bupati Lumajang Ungkap Strategi Penyesuaian Anggaran Pegawai sesuai UU HKPD
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal, Pemprov Jatim Pilih Lumajang sebagai Lokasi Rapat Evaluasi APBD
Peringati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional, Masyarakat Diajak untuk Gerak Bersama dalam Upaya Mitigasi Bencana
Lima Pemuda Pelopor Asal Lumajang Siap Berlaga di Tingkat Jawa Timur
Menteri ATR/Kepala BPN Ajak Masyarakat Sulsel Lawan Mafia Tanah
Indonesia Dorong Penetapan Hari Danau Sedunia di World Water Forum ke-10
PUPR Rampungkan Penataan Kawasan Pesisir Labuang sebagai Destinasi Wisata Baru di Majene
Tak Ada Larangan Warung Madura Beroperasi 24 Jam