KKN Terintegrasi Unri, Berdayakan Masyarakat Suku Sakai Melalui Pelestarian Kembali Potensi Lokal Mangalo

photo author
Hasbullah RM, Riau Makmur
- Kamis, 8 Agustus 2024 | 13:45 WIB
Proses Mangalo di masyarakat Suku Sakai.
Proses Mangalo di masyarakat Suku Sakai.

RIAUMAKMUR.COM, BENGKALIS - Potensi lokal terus menjadi sorotan dalam upaya peningkatan ekonomi di berbagai daerah, perlunya kerjasama antara masyarakat, akademisi, pemerintah daerah setempat.

Kerjasama ini diyakini bisa mengembangkan sumber daya dan keunggulan yang dimiliki untuk menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu upaya tersebut dilaksanakan kembali upaya bersama untuk pelestarian potensi lokal Mangalo di wilayah Desa Kesumbo Ampai, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Baca Juga: 5.210 Mahasiswa Kukerta UNRI Resmi Mengabdi ke Masyarakat

Mangalo sendiri merupakan sejenis tumbuhan umbi-umbian yang menjadi makanan pokok tradisional masyarakat Suku Sakai sejak zaman nenek moyang. 

Sebagai catatan, tumbuhan ini merupakan tumbuhan beracun dan bentuknya serupa dengan ubi kayu, sehingga perlu dilakukan pengolahan secara bertahap agar dapat dikonsumsi dengan aman.

Pembudidayaan tanaman ini tergolong mudah karena tidak memerlukan perawatan rutin serta terhindar dari serangan hewan-hewan liar karena mengandung racun yang berbahaya.

Baca Juga: UNRI Gelar Musrenbang Tahun Penganggaran Tahun 2025

Namun dibalik racun yang berbahaya tersebut, daun tanaman ini memiliki manfaat untuk menyembuhkan kanker.

“Bahkan orang dari luar datang ke desa ini mencari daun mangalo untuk obat penyakit kanker” ucap salah satu masyarakat Desa Kesumbo Ampai.

Pada saat ini mangalo sulit ditemukan karena makanan pokok masyarakat sudah beralih ke beras dan lahan yang ada ditanami sawit dan karet.

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pelestarian agar tumbuhan tradisional ini tetap dapat dibudidayakan.

Mahasiswa KKN Terintegrasi UNRI 2024 Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis di bawah bimbingan Prof. Dr. Sujianto, M.Si. berupaya untuk melakukan pemberdayaan masyarakat  melalui pelestarian kembali potensi lokal mangalo.

Berdasarkan hasil Forum Group Discussion bersama masyarakat lokal, didapatkan informasi bahwa pembudidayaan dan pengolahan mangalo sudah mulai langka, bahkan harus membeli mangalo dari daerah lain.

Berdasarkan informasi tersebut perlu dilakukan upaya pemberdayaan terhadap masyarakat Desa Kesumbo Ampai untuk menghidupkan kembali tradisi penanaman dan pengolahan mangalo agar tradisi peninggalan nenek moyang Suku Sakai ini tidak hilang begitu saja dan dapat dikembangkan menjadi barang olahan yang bernilai jual. 

Sebagai upaya pelestarian potensi lokal mangalo, mahasiswa KKN UNRI 2024 mengajak masyarakat Desa Kesumbo Ampai untuk membudidayakan kembali tanaman ini dan mengolahnya dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat.

Pengolahan mangalo dilakukan di rumah salah satu masyarakat yakni Ibu Nuraya yang sudah berpengalaman dalam pengolahan mangalo.

Hal pertama yang perlu dilakukan setelah mendapatkan mangalo adalah mengupas lalu merendamnya di dalam air bersih semalaman, selanjutnya mangalo yang telah direndam diparut menggunakan duri rotan dan diperas hingga kering untuk mengurangi kandungan racun di dalamnya.

Setelah itu mangalo didiamkan kembali selama dua hari agar racun di dalamnya benar-benar hilang. Setelah itu, barulah mangalo dapat disangrai dengan menggunakan kuali besi hingga benar-benar kering dan berwarna kecoklatan.

Mangalo yang telah disangrai sudah siap untuk dikonsumsi secara langsung atau dapat diolah dengan memberi perasa manis menggunakan kelapa dan gula merah serta perasa asin menggunakan garam dan irisan bawang. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hasbullah RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X