RIAUMAKMUR.COM - Asisten Deputi Pemajuan dan Pelestarian Kebudayaan Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo mengaku khawatir permainan tradisional makin menghilang dari peredaran.
Itu yang menjadi tujuan pihaknya menggelar Festival permainan tradisional pada 4-5 September 2024 di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menurutnya, perkembangan tehnologi informasi menjadi penyebab utama makin jarangnya permainan tradisional dimainkan seperti dulu. Anak-anak sekarang lebih suka bermain game di gadget atau menikmati konten lainnya.
Baca Juga: KPAI Sebut Kekerasan Anak Banyak Terjadi di Keluarga
"Selain itu, makin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) juga menjadi penyebab berkurangnya lahan bermain anak-anak yang ikut menggerus permainan tradisional. Padahal permainan tradisonal adalah bagian dari sejarah dan kekayaan budaya bangsa," katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro3, Sabtu (7/9/2024).
Oleh karena itu, kata dia, pemerintah mendorong agar permainan tradisional ini tidak punah dan hilang. Upaya bersama semua elemen masyarakat perlu dibangkitkan kembali untuk upaya pelestarian tersebut.
"Upaya itu bisa dimulai dari sekolah-sekolah berbagai tingkatkan yang mulai melakukan kompetisi permainan tradisonal. Dari mulai kompetisi antar kelas, sampai nanti antar sekolah tingkat lokal dan nasional," kata Andre lagi.
Baca Juga: Pemprov Riau Beri Motivasi Kepada 56 Kafilah Untuk Fokus Hadapi MTQ Nasional XXX
Menurut Andre, upaya ini diharapkan dapat membuat anak-anak akan lebih mengenal dan menyukai permainan tradisional. Diantaranya permainan tradisional seperti Gasing, Gundu, Engrang, dan lainnya."
Dalam rangka melestarikan permainan tradisonal, sebut dia, Kemenko PMK juga menggelar Festival permainan tradisional dari 4-5 September 2024 di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Balikpapan, Kalimantan Timur. Festival tersebut merupakan awal dari rangkaian Festival Harmoni Budaya Nusantara (FHBN).
Andre menyatakan, festival dan lomba permainan tradisional merupakan sebuah sarana edukasi yang efektif serta wujud nyata pemajuan dan pelestarian kebudayaan nasional.
Baca Juga: MTQ XXX Nasional, Pelatih Kafilah Riau Berharap Begini
Festival permainan tradisional dapat memperkuat kepedulian dan kecintaan terhadap keanekaragaman budaya di tanah air, khususnya permainan tradisional.
“FHBN 2024 dengan tema ‘Merajut Persatuan dalam Keberagaman’ mengusung semangat untuk menciptakan keselarasan, persatuan. Juga penghargaan berbagai budaya yang ada dalam suatu masyarakat yang beragam," ujarnya.
"Di sisi lain, lomba permainan tradisional juga memperkuat nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya. Yakni seperti sportivitas, kepercayaan diri, kepribadian yang tangguh, dan nilai lainnya yang selaras dengan nilai-nilai Revolusi Mental,"ucapnya.
Artikel Terkait
Lestarikan Budaya dan Sejarah Kei, Pemkab Malra Peringati Hari Nen Dit Sakmas.
Adu Gaya Liu Yifei vs Zhao Lusi di Event Bvlgari, Sama-Sama Kenakan Gaun Mewah dan Perhiasan Mahal
Kerap Hasilkan Lagu Eksperimental dan Antimainstream, Netizen Diskusikan Lagu Terbaik Stray Kids yang Disukai Publik
Kemenag Pekanbaru Lakukan Monitoring dan Evaluasi di Dua Madrasah, Ini Tujuannya
Jadikan Kampus Sebagai Tempat yang Sehat, Aman dan Nyaman, UNRI Gelar Sosialisasi PPKS
Diberi Pelayanan Bintang Lima, Kafilah Bumi Lancang Kuning Apresiasi Pemprov Riau
MTQ XXX Nasional, Pelatih Kafilah Riau Berharap Begini
Pemprov Riau Beri Motivasi Kepada 56 Kafilah Untuk Fokus Hadapi MTQ Nasional XXX
Dikabarkan Bakal Jadi Pasangan di Drama Kostum Baru, Penggemar Zhang Linghe dan Tian Xiwei Justru Kompak Boikot Chasing Jade
KPAI Sebut Kekerasan Anak Banyak Terjadi di Keluarga