BPBD: Sembilan Orang Meninggal Akibat Bencana Hidrometeorologi Banten

photo author
Hasmawi RM, Riau Makmur
- Jumat, 13 Desember 2024 | 15:00 WIB
Personel BPBD Provinsi Banten mendatangi kawasan dilanda banjir dan longsor di Banten. (Dok/BPBD Banten)
Personel BPBD Provinsi Banten mendatangi kawasan dilanda banjir dan longsor di Banten. (Dok/BPBD Banten)

RIAUMAKMUR.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mencatat bencana hidrometeorologi basah di Banten menelan sembilan korban meninggal. Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten Nana Suryana. 

Ia menyatakan korban jiwa akibat peristiwa tersebut terdapat di tiga wilayah kabupaten. Yakni Serang, Pandeglang, dan Lebak.

"Informasi yang saya dapatkan sampai kemarin itu. Sekitar sembilan orang," kata Nkat dalam keterangannya, Kamis (12/12/2024). 

Nana mengatakan korban jiwa tersebut akibat terseret arus banjir akibat curah hujan tinggi, tertimpa reruntuhan rumah, dan tertimpa pohon akibat puting beliung. Pada kasus terakhir di Kabupaten Serang, meski hujan pada Senin (9/12) hanya sebentar, namun membuat tiga orang terseret arus Sungai Irigasi Baros.

Selain itu Nana mengatakan di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, masih membutuhkan bantuan peralatan evakuasi akibat volume air yang meningkat. Sementara di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, banjir dinyatakan surut.

Nana mengatakan perlu ada normalisasi sungai untuk mencegah luapan air ke pemukiman warga, mengingat intensitas curah hujan tinggi beberapa waktu lalu. Ini menyebabkan 30 persen air lebih tinggi dari biasanya, sehingga menyebabkan luapan aliran sungai.

Nana menjelaskan banjir dari Kabupaten Lebak dari luapan hilir sungai Ciberang, Ciliman, dan Cilemer. Hingga sampai ke Kecamatan Patia dan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang.

Kemudian banjir di Kecamatan Labuan dari luapan Sungai Cipunten Agung dimana aliran air turun dari Gunung Akarsari, Gunung Pulosari, Gunung Karang. Sementara di Kecamatan Mandalawangi, Pulosari, Cisata, termasuk Cisata kemarin (11/12) juga terdampak aliran air gunung akibat hujan lebat.

Nana mengatakan potensi bencana hidrometeorologi basah di Banten masih ada hingga akhir tahun 2024. Oleh karena itu dengan unsur Pentaheliks pihaknya akan melakukan teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan ke laut sebelum mencapai ke darat.

"Jadi jangan khawatir. Misalnya supaya Jakarta tidak hujan, tidak kebanjiran, di Banten diturunkan hujan, tapi di laut," ucapnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hasmawi RM

Tags

Rekomendasi

Terkini

X