berita

Tekan Kasus Bunuh Diri di Malut, Himpsi Usul Layanan Kesehatan Mental di Puskesmas hingga Desa

Senin, 22 April 2024 | 15:37 WIB
Ketua Himpsi Wilayah Maluku Utara, Syaiful Bahry.

RIAUMAKMUR.COM- Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Provinsi Maluku Utara menekankan perlunya pelayanan kesehatan mental bagi masyarakat guna menekan angka kasus bunuh diri di provinsi kaya rempah tersebut.

Tercatat mulai dari tahun 2016 hingga tahun 2021, total kasus bunuh diri di Maluku Utara (Malut) sebanyak 90 Kasus. 

Lebih rinci, berdasarkan data kasus bunuh diri yang dirilis media, di Halmahera Utara tercatat sebanyak 62 kasus (2019-2021), Kota Ternate 9 kasus (2020-2021), Halmahera Barat 7 Kasus (2016-2021), Halmahera Selatan 8 Kasus (2018-2021), Halmahera Timur 3 Kasus (2019-2021).

Baca Juga: KPK Sita Hotel dan 10 Bidang Tanah Milik Mantan Gubernur Maluku Utara

Kemudian, Kota Tidore Kepulauan 1 Kasus (2021), Morotai 3 Kasus (2020), Kepulauan Sula 2 Kasus (2020) dan Taliabu 1 Kasus (2020). 

Ketua Himpsi Wilayah Maluku Utara, Syaiful Bahry, mengatakan, program Maluku Utara Peduli Kesehatan Mental perlu dipikirkan dan disiapkan untuk pelayanan kesehatan mental masyarakat di provinsi yang juga dikenal sebagai “Kesultanan Empat Gunung” itu. 

"Butuh keseriusan, mengapa demikian? karena depresi dan kecemasan merupakan gangguan mental dengan prevalensi tertinggi di dunia. Orang mudah untuk melakukan bunuh diri, karena mentalnya tidak stabil," kata Syaiful, Senin (22/4/2024).

Baca Juga: Bukan Karena Keluarga Hadi Zulkarnain, Shintia Indah Permatasari Bunuh Diri Karena Tertekan Keluarganya Sendiri

Untuk itu, menurut dia, Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku Utara sudah seharusnya menyiapkan model pelayanan kesehatan mental masyarakat dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM), baik psikolog ataupun ilmuwan psikologi, untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan mental. 

"Pelayanan psikologi di tingkat Puskesmas di kota sampai dengan di desa-desa perlu dihadirkan, agar masyarakat mudah untuk mengakses layanan psikologi," tandasnya.

Dia menambahkan, perlu disiapkan edukasi kesehatan mental, bahkan bila perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan terkait dengan edukasi kesehatan mental.

Baca Juga: Diduga Batal Nikah, Shintia Indah Permatasari Ditemukan Bunuh Diri di Hotel

"Sehingga anak-anak muda kita tidak tergelincir kembali ke dalam kasus bunuh diri," pungkasnya. ***

Tags

Terkini