RIAUMAKMUR.COM - Pemerintah Indonesia mendorong swasembada pangan sebagai strategi untuk mengendalikan inflasi dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Namun, ada perbedaan mendasar dalam pendekatan yang diambil, yakni berbasis komoditas dan gizi.
Pengamat Ekonomi Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori menilai, pendekatan berbasis gizi lebih efektif.
Baca Juga: BPOM Ajak Kampus Berkolaborasi Perkuat Keamanan Pangan
"Pendekatan berbasis gizi lebih tepat agar semua komoditas mendapat perhatian tanpa mengabaikan yang lainnya," ujarnya dalam wawancara bersama PRO 3 RRI, Selasa (10/12/2024).
Pendekatan berbasis komoditas menekankan pemenuhan kebutuhan pangan dengan produksi komoditas tertentu, seperti beras dan jagung.
Fokus ini dapat mengabaikan komoditas lain yang juga penting dalam mencapai swasembada pangan.
Menurutnya, pendekatan ini dapat menjamin produksi komoditas utama, tetapi berisiko mengabaikan keberagaman kebutuhan pangan dan gizi.
Baca Juga: Ekosistem Perdagangan Emas Digital Sudah Berjalan 5 Tahun, Lembaga Kliring Memiliki Peran Penting
"Dengan pendekatan berbasis komoditas, kita cenderung mengabaikan komoditas-komoditas lain yang juga penting untuk keberagaman konsumsi masyarakat," kata Khudori.
Pendekatan berbasis gizi mengutamakan pemenuhan karbohidrat, protein, dan lemak seimbang dari sumber pangan lokal.
Ia menyampaikan bahwa pendekatan ini memperhitungkan kualitas gizi secara keseluruhan untuk mendukung kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Berantas Korupsi, Menko Polkam: Aparat Jangan Ragu-ragu
Meski demikian, tantangan terbesar dalam pendekatan berbasis gizi adalah distribusi pangan yang merata ke seluruh wilayah Indonesia.
Produksi pangan tercapai, namun distribusi yang tidak merata, membuat daya beli masyarakat terhambat akan akses kebutuhan pangan.