berita

Kementan Antisipasi La Nina di Akhir Tahun 2024

Sabtu, 21 Desember 2024 | 18:00 WIB
Buruh tani menyiapkan bibit padi yang akan ditanam (Raisan Al Farisi/rwa.)

RIAUMAKMUR.COM - Kementerian Pertanian (Kementan) mengantisipasi fenomena La Nina yang diperkirakan terjadi di akhir tahun 2024. Yakni dengab curah hujan lebih basah dibandingkan biasanya. 

"La Nina kalau untuk sawah tadah hujan untuk lahan kering karena cuaca menjadi basah. Itu ada peningkatan luas tanam luar biasa, itu yang harus kita genjot," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jumat (20/12/2024).

Selain itu, Dedi menekankan pentingnya menyiapkan pompa air untuk daerah-daerah rawan banjir. Kemudian, memperbaiki saluran drainase.

Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Pastikan Kesiapan Angkutan Umum Nataru

"Kita juga harus memilih varietas yang tahan rendaman," ujarnya. Ia memastikan terdapat varietas tanaman yang tahan cuaca ekstrem. 

Sehingga, kata dia, hal itu tidak terpengaruh dengan cuaca tersebut. "Itu yang harus kita siapkan terutama logistiknya, terutama benihnya," ucapnya.

Di sisi lain, ia optimis target swasembada pangan dapat terwujud di tahun 2027 mendatang. Hal itu dapat dilakukan dengan optimalisasi lahan pertannian.

Baca Juga: Kapolda Riau Beri Warning Keras: Jangan Sampai Ada Korban Kecelakaan Saat Nataru

"Yang dilakukan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selain optimalisasi lahan. Dia juga menggenjot program sawah baru," katanya.

Selain itu, Kementerian Pertanian juga mempunyai peningkatan program produktivitas. Terkait optimalisasi lahan ini, pihaknya optimis terjadi kenaikan produksi pangan.

"Kalau 1 juta hektar kalau produktivitasnya misalnya 4 ton per hektar. Berarti berasnya kurang lebih 2 ton per hektar, kita kekurangan 1juta konsumsi beras itu," ujarnya.

Baca Juga: Pj Gubri Terima Audiensi Panitia Natal Agung Oikumene, Begini Pembahasannya

Ia menyebut lahan sawah di seluruh Indonesia terdapat 7,38 juta hektar. Dengan kurang lebih 4,6 juta diantaranya adalah irigasi, baik teknis maupun semiteknis.

"Artinya sudah ditanami dua kali. Bahkan ada diantaranya yang tiga kali," katanya.

Namun ternyata masih ada 2,6 juta sampai 3 juta hektar lahan sawah di Indonesia baru ditanami satu kali. Menurutnya, lahan sawah tersebut merupakan lahan sawah rawa dan lahan sawah tadah hujan.

Halaman:

Tags

Terkini