berita

Imbas Kebohongan Sosial, Uang Donald Trump Hilang Rp10 Triliun

Rabu, 12 April 2023 | 20:33 WIB
Kekayaan Donald Trum turun hingga Rp10 triliun

PEKANBARU — Donald Trump merupakan salah satu figur diboikot oleh Twitter karena kerap melakukan kebohongan sosial.

Trump memang sosok yang kontroversial, bahkan jauh sebelum dia menjadi Presiden Amerika Serikat menggantikan Barack Obama.

Dikabarkan, akibat imbas dari kebohongan sosial yang dia lakukan, kekayaan Donald Trump turun hingga mencapai Rp10 triliun.

Sempat dilarang menggunakan Twitter, membuat mantan Presiden AS ini kehilangan sarana utama untuk berkomunikasi dengan para pengikutnya, sehingga Trump membuat Twitter sendiri dengan nama Truth Social.

Twitter tersebut berpotensi meningkatkan kekayaan Trump hingga miliaran dolar. 

Setelah ia mengumumkan rencana tersebut, para pendukungnya menumpuk di perusahaan akuisisi khusus Truth Social atau SPAC, Digital World Acquisition Corp, yang membuat lonjakan dari USD10 menjadi USD175 dalam 2 hari.

Lonjakan tersebut menyiratkan bahwa bisnis Truth Social bernilai USD22 miliar dan sahamnya mencapai USD19 miliar atau sebesar Rp281 triliun. 

Namun, pada bulan Desember 2021, sekelompok investor besar berjanji untuk menyuntikkan dana sebesar USD1 miliar ke dalam usaha tersebut, tetapi hanya jika mereka mendapatkan kesepakatan yang menguntungkan.

Pada saat itu, saham diperdagangkan seharga USD45 di pasar terbuka. 

Namun, di bawah perjanjian tersebut, para investor baru akan mendapatkan jaminan keuntungan selama sahamnya berada di atas USD10.

Mengutip dari laman Forbes sebagaimana dilansir dari IDX Channel, diperkirakan nilai saham Trump menggunakan angka USD10 per saham dan menghasilkan angka USD730 juta.

Kekayaan mantan presiden tersebut turun dari sekitar USD3,2 miliar atau Rp47 triliun pada musim gugur lalu menjadi Rp37 triliun hari ini dikarenakan bisnis media sosialnya, yang pernah melejit hingga ke bulan kini telah runtuh dan menghapus hampir Rp10 triliun dari kekayaan bersihnya.

Departemen Kehakiman, Komisi Sekuritas dan Bursa, dan Badan Pengawas Keuangan memeriksa usaha tersebut. 

Sementara itu, SPAC, yang memecat kepala eksekutifnya bulan lalu, hanya memiliki waktu hingga 8 September untuk menyelesaikan merger.

Halaman:

Tags

Terkini