PEKANBARU - Sri Gosleana, Pertiwi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menyatakan nilai-nilai konservasi alam dan lingkungan tidak hanya berlaku saat ini, tetapi juga untuk masa depan, baik esok maupun selanjutnya.
Menurut Pertiwi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) ini, penciptaan alam dan keanekaragaman hayati oleh Tuhan dimaksudkan untuk dikelola secara bijak, bukan untuk dihabiskan. Generasi saat ini, kata Sri Gosleana seharusnya menyadari bahwa mereka bukanlah pewaris kekayaan alam, tetapi sebenarnya hanya meminjamnya dari generasi masa depan.
Meskipun bekerja di industri migas, semangat konservasi lulusan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini tidak luntur. Pengetahuan Sri Gosleana, si Pertiwi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) ini dalam bidang konservasi justru membantu perusahaan meningkatkan perlindungan terhadap alam dan lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Gosle ia akrab disapa, menyatu dengan PHR yang memiliki kesadaran tinggi tentang perlindungan alam dan lingkungan. Pengalamannya di bidang perizinan kehutanan dan tata ruang membuat Gosle harus selalu berurusan dengan instansi pemerintahan.
Gosle, dengan latar belakang pendidikan konservasi dan sumber daya hutan, berperan sebagai penghubung antara PHR dan instansi pemerintah dalam hal perlindungan alam dan konservasi. Ia memiliki pemahaman yang mendalam mengenai aturan teknis dan kerja sama dengan instansi pemerintahan yang diperlukan untuk menyelaraskan kegiatan operasi perusahaan dengan konservasi. Dengan demikian, Gosle memastikan bahwa PHR dapat beroperasi secara harmonis dan sejalan dengan upaya konservasi lingkungan di sekitar wilayah operasinya.
“Setiap kegiatan operasi yang berdekatan dengan daerah konservasi harus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Begitu pula dengan keanekaragaman hayati dan satwa, kita juga harus berkomunikasi dengan BBKSDA Riau,” ujarnya.
Sebagai Analis Regulasi Lahan dan Pemanfaatan di Pertamina Hulu Rokan (PHR), wanita tersebut mengaku bangga bisa bergabung dengan perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap konservasi lingkungan. Meskipun tugas utama perusahaan adalah menjaga ketahanan energi nasional, PHR tetap memprioritaskan keberlangsungan hutan dan lingkungan di sekitar wilayah operasinya. Hal ini menunjukkan bahwa PHR tidak hanya fokus pada bisnis, namun juga memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan untuk kesejahteraan bersama.
“Negara mengamanahkan PHR mencari minyak, namun komitmen PHR terhadap hutan dan keanekaragaman hayati itu sangat tinggi serta peduli terhadap satwa yang dilindungi,” tukasnya.
Salah satu contoh hutan yang dijaga oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR) adalah Hutan Rumbai di Kamp PHR. Hutan ini memiliki keunikan flora dengan ketinggian pohon yang bervariasi, serta tegakan pohon yang khas. Selain itu, terdapat juga beragam satwa yang hidup di Hutan Rumbai, termasuk satwa yang dilindungi seperti Lutung (langur francois), Owa Ungko (hylobates agilis), dan Tapir (tapirus indicus).
“Dengan adanya spesies yang spesifik itu menjadi indikator tegakan hutan di Kamp PHR masih sangat bagus,” ujarnya.
PHR terus berusaha untuk meningkatkan kesadaran pekerja dan masyarakat sekitar tentang pentingnya peduli terhadap lingkungan. Perusahaan melakukan sosialisasi perlindungan hutan dan satwa melalui tim Operational Excellence/Health Environmental Safety (OE/HES) agar kesadaran tentang pentingnya lingkungan semakin ditanamkan di dalam diri mereka.
“Tim OE/HES bagian environment sudah punya program yang bagus sekali untuk perlindungan hutan, seperti dilarang berburu, peringatan keberadaan satwa sampai memasang plang peringatan daerah perlintasan satwa,” tuturnya.
PHR juga memiliki berbagai program peduli lingkungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Salah satu program terbaru yang dilakukan adalah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Riau dalam membangun Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Minas yang terletak dekat dengan Hutan Rumbai. Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dan masyarakat sekitar Tahura Minas.
PHR telah berkolaborasi dengan komunitas pecinta alam dalam melindungi satwa endemik Gajah Sumatra (elephas maximus sumatranus) melalui Program Agroforestri. Selain memulihkan fungsi hutan, program ini juga bertujuan untuk mengurangi risiko konflik antara gajah dan manusia.