JAKARTA - Dalam lima tahun terakhir, Kementerian Kesehatan RI mencatat ada kenaikan kasus sifilis atau raja singa di Indonesia. Peningkatan tercatat bahkan hampir 70 persen.
Hal tersebut disampaikan juru bicara Kemenkes RI, Mohammad Syahril. "Lima tahun terakhir dari tahun 2018 - 2022, terjadi peningkatan kasus hampir 70 persen, dari 18 ribu kasus menjadi 21 ribu kasus saat ini," kata dia belum lama ini.
Syahril juga menyebutkan, khusus kasus sifilis pada anak paling banyak tertular dari ibunya. Itu karena minimnya tes atau skrining sifilis pada kasus ibu hamil.
Masih kata Syahril, dari 5 juta kehamilan, ternyata 25 persen saja yang melakukan skrining sifilis. Selain itu, baru 41 persen ibu hamil yang mendapatkan pengobatan.
"Ibu hamil dengan sifilis yang diobati masih rendah, hanya di kisaran 40 persen. Dan 60 persen tidak mendapatkan pengobatan sehingga berpotensi menularkan dan menimbulkan cacat pada anak yang dilahirkan," jelas dr Syahril.
Setiap tahun, kata dia, ada penambahan rata-rata 17-20 ribu kasus. Untuk itu, kasus ini perlu menjadi perhatian, kewaspadaan, peringatan ini kepada seluruh masyarakat.
"Begitu besarnya dampak sifilis dan HIV kepada anak-anak, apabila seorang ibu tidak mendapatkan perlakuan yang baik," paparnya.
Dia juga mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari aktivitas seksual berisiko. Untuk yang sudah menikah, disarankan untuk tidak melakukan perilaku seks berisiko seperti seks oral dan lainnya.
Selain itu, dia juga meminta kepada masyarakat untuk aktif melakukan tes sifilis di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas yang bisa didapatkan secara gratis.
Hal tersebut, ucapnya, demi memastikan angka kematian dan kesakitan akibat sifilis bisa terus ditekan.***