RIAUMAKMUR.COM - Direktur Jenderal Pencegahan dan pengendalian penyakit, Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Maxi Rein Rondonuwu mengatakan bahwa deteksi dini merupakan upaya utama untuk bisa menyelamatkan penderita kanker. Sebab, jika kanker bisa diketahui lebih awal, tingkat kesembuhannya lebih besar, dan biayanya juga lebih murah.
Hal tersebut disampaikan Maxi Rein dalam acara Webinar Hari Kanker Sedunia 2024 secara virtual, Jumat (23/2/2024). Kanker, kata dia, memiliki banyak jenis. Namun, saat ini pemerintah lebih memprioritaskan untuk empat jenis kanker yang banyak ditemui di tanah air, di antaranya kanker payudara dan kanker serviks (leher rahim) pada wanita, serta kanker paru-paru dan kanker usus pada pria.
Dikatakan Maxi Rein, jika sudah terkena kanker dan terlambat untuk diatasi, maka akan memiliki beberapa risiko, yakni meninggal dunia dan biaya untuk sembuh sangat besar.
Baca Juga: Kanker Serviks Menduduki Urutan Kedua di Indonesia, Ini Penyebabnya
Untuk mencegah hal tersebut, ia mengharapkan masyarakat supaya memiliki keinginan untuk melakukan deteksi dini. Di mana itu bisa dilakukan di puskesmas.
"Upaya yang harus kita lakukan yaitu deteksi dini, karena dengan kita melakukan deteksi dini, tentu ini biayanya jauh lebih murah," ujarnya.
Di tempat berbeda, senada dengan itu, Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin mengimbau bahwa pentingnya melakukan upaya deteksi dini untuk menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh kanker.
Baca Juga: Mengatasi Kanker dengan Cara Konsumsi Buah Bit yang Tepat
Sejalan dengan upaya mewujudkan transformasi kesehatan, sebut Budi Gunadi, Kementerian Kesehatan terus berupaya melengkapi fasilitas pelayanan kesehatan deteksi dini kanker di tingkat puskesmas kabupaten/kota. Hal ini untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan layanan deteksi dini.
"Strategi utama menurunkan angka kematian akibat kanker adalah dengan deteksi dini. Kalau kanker bisa diketahui lebih dini, tingkat kesembuhannya lebih besar, dan biayanya juga lebih murah," pungkas Menkes Budi Gunadi.
Menkes Budi mengatakan semua puskesmas di 514 kabupaten/kota sedang disiapkan untuk bisa melayani deteksi dini pada empat jenis kanker tersebut.
"Semua puskesmas sedang kami siapkan. Harapannya tahun ini, semua alatnya bisa selesai kita bagikan secara bertahap ke 10.000 puskesmas di 514 Kabupaten/Kota," imbuh Menkes.
Alat kesehatan yang dimaksud, yakni utamanya untuk deteksi dini kanker payudara adalah Probe Linear USG. Sedangkan untuk deteksi dini kanker serviks, Kemenkes sudah mulai meluncurkan tes HPV DNA yang hasilnya lebih akurat dan prosesnya lebih mudah dibandingkan dengan Pap Smear.
Sementara itu, Menkes Budi menyebutkan layanan deteksi dini kanker paru-paru dan kanker usus juga akan disediakan. Kemenkes menargetkan setiap puskesmas dapat melakukan layanan skrining kanker paru dengan alat Low Dose CT-Scan (LDCT) dan kanker usus besar dengan kolonoskopi. Yang mana, LDCT mampu mendeteksi lesi kecil atau nodul pada paru-paru yang mungkin merupakan tanda awal kanker paru-paru.
Artikel Terkait
Cegah Kanker, Kemenkes Gencarkan Program Promotif dan Preventif
Alasan Pilu Aldi Taher Bertingkah Konyol Selama Ini Karena Penyakit Kanker Yang Pernah di Idap
Bisa Cegah Kanker Hingga Jaga Kesehatan Mata, Ini Segudang Manfaat dari Bayam
Mengenali Gejala Awal dan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Rahim
7 Langkah Mudah Pemeriksaan Payudara Sendiri untuk Deteksi Kanker
Seorang Teman Ungkap Mengapa Coco Lee Rahasiakan Penyakit Kanker dari Orang Tuanya
Bukan Hanya Enak, Ternyata Manfaat Buah Manggis Juga Baik untuk Kesehatan Mental dan Senjata Anti Kanker
Manfaat Buah Bit 'Beetroot', Bagus Untuk Otak hingga Anti Kanker
Cegah Kanker dan Atasi Kolesterol, Ini Manfaat Luar Biasa Bawang Tunggal
Mencegah Kanker dengan Makan Buah Pir Secara Teratur
Menggali Manfaat Daun Kucai, Bagus untuk Daya Ingat, Jantung hingga Anti Kanker
10 Manfaat Kunyit, Meningkatkan Fungsi Otak hingga Melawan Kanker
Makan Tomat Bisa Tekan Resiko Kanker?
Mengatasi Kanker dengan Cara Konsumsi Buah Bit yang Tepat
Kanker Serviks Menduduki Urutan Kedua di Indonesia, Ini Penyebabnya