"Satu piring gayang saya jual lima ribu rupiah. Setiap hari pasti habis," kata Sophia Siwalete, salah satu penjual gayang di Papua.
Ia mengungkapkan bahwa musim panen gayang biasanya berlangsung pada bulan Februari hingga Maret.
Baca Juga: Ternyata Manfaat Buah Peluntan Luar Biasa! Sayang, Kini Makin Sulit Ditemukan
Meskipun hasil panen tidak sebanyak dulu, buah ini tetap menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi masyarakat Papua.
Dalam sehari, Sophia bersama penjual lainnya bisa membawa sekitar 15 kilogram gayang, yang selalu habis terjual.
Dari hasil penjualannya, ia dapat meraup pendapatan sekitar Rp300 ribu per hari.
Baca Juga: Cicipi Keunikan Omija, Buah 5 Rasa yang Populer di Korea
Potensi Yang Perlu Dikembangkan
Banyak orang mengira hanya buah-buahan yang rasanya asam yang kaya akan vitamin C.
Namun, gayang membuktikan sebaliknya.
Sebagai bagian dari keluarga polong-polongan, buah ini menyimpan potensi besar untuk diversifikasi pangan sekaligus menjaga kesehatan.
Tidak hanya menjadi solusi sariawan, gayang juga mampu memberikan manfaat lain bagi tubuh berkat kandungan serat dan vitaminnya.
Baca Juga: Buah Karamunting Ternyata Bisa Cegah Penyakit Kronis, Ini Manfaatnya
Dengan kekayaan manfaat yang ditawarkan, gayang layak mendapat perhatian lebih besar, baik dari segi konsumsi maupun pengembangan sebagai komoditas unggulan Papua.
Mungkin kini saatnya bagi Anda untuk mencoba gayang sebagai bagian dari pola makan sehat sehari-hari.