RIAUMAKMUR.COM, PEKANBARU - Pasca dituduh sebagai pengkhianat oleh Partai Demokrat, Bakal Calon Presiden RI, Anies Baswedan, akhirnya menjelaskan kronologis yang terjadi sebelum deklarasi Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar.
Dikatakan Anies Baswedan, dirinya mengungkapkan bahwa sudah mengusulkan nama Ketua Umum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan sudah dibahas sejak Juni 2023.
Duet Anies Baswedan dengan AHY sendiri sudah dibahas dalam rapat koalisi tiga partai, yaitu Nasdem, Demokrat, dan PKS.
Baca Juga: Terkait 'Pengkhianatan' Anies Baswedan, Demokrat Riau: Biarkan Masyarakat yang Menilai
Dalam wawancara di Mata Najwa, Anies Baswedan menyampaikan bahwa usulan ini telah dia ungkapkan kepada Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, bahwa opsi yang tersedia hari ini hanya AHY.
Ketika mendengar itu, Surya Paloh tidak menolak. Hanya saja, opsi itu baru bisa diambil ketika sudah memasuki masa ujung pencalonan.
"Pak Surya Paloh ketika mendengar itu, beliau tidak menolak, tapi beliau mengatakan begini 'itu adalah opsi yang boleh kita lakukan pencalonan di ujung, tapi tidak sekarang'. PKS memahami bahwa pilihannya memang AHY, yang tersedia AHY, lalu Demokrat juga gitu," kata Anies Baswedan.
Baca Juga: 'Anies Baswedan dan AHY' Ikut Daftarkan Demokrat Riau ke KPU, Agung Nugroho Bilang Begini..
Kemudian, pembahasan itu dilanjutkan ketika Anies Baswedan pulang dari ibadah haji. Partai Demokrat mendesak supaya pasangan ini segera dideklarasikan, tapi Nasdem belum bersedia.
"Nama itu tidak ditolak, tapi tidak dideklarasikan sekarang. Dicoba dicari penjembatan," imbuh dia.
Kemudian, pada Selasa (29/8/2023), Tim 8 yang merupakan perwakilan dari ketiga partai menggelar rapat dan diskusi berlangsung panas, hingga ada aksi gebrak meja.
Baca Juga: Usung Tagline 'Ayo Kembalikan Kejayaan Kampar', Demokrat Optimis Kadernya Jadi Ketua DPRD dan Bupati
"Utusan Demokrat dan utusan NasDem terjadi perbedaan pandangan yang sangat keras, bahkan sampai gebrak meja di situ. Apa perbedaannya? Demokrat menginginkan ditetapkan segera, NasDem menginginkan ditetapkan nanti sambil menunggu siapa tahu ada opsi lain," kata dia.
Ia mengatakan pertemuan tim 8 itu buntu, selain itu ada pernyataan bahwa Demokrat dipersilakan jika mau mencoba opsi lain.
"Itu kan dalam percakapan di tim 8 ada. Bukan keluar koalisi, mereka akan coba exercise lain. Ini mereka menunggu, kapan ini keputusannya. Di sisi lain NasDem bukan menolak AHY, tapi tidak mau dideklarasikan segera," katanya.
Di sisi lain, Anies mengatakan ketika pertemuan itu buntu, ia ditelepon untuk datang ke Kantor NasDem pada Selasa malam. Di sana, ia bertemu dengan Ketum NasDem Surya Paloh.
"Malam itu saya sedang dalam perjalanan, dilaporin pertemuan (Tim 8) yang hasilnya buntu. Saya mendapat telepon dari kantor NasDem, diminta untuk ke kantor NasDem," kata Anies.
Saat itu, ia mengaku bertemu dengan Ketum NasDem Surya Paloh. Menurutnya, saat itu Surya Paloh dihadapkan pada dua pilihan
Pertama, berunding dengan PKS dan Demokrat, lalu kemudian bersepakat dengan PKB. Risikonya, PKB bisa saja diajak oleh koalisi lain.
Kedua, langsung membuat kesepakatan dengan PKB. Risikonya, PKS dan Demokrat bakal merasa dilewati karena tidak diajak bicara.
Menurut Anies, Surya Paloh memilih opsi kedua.
"Ini sebuah ijtihad, kemudian Pak Surya Paloh memilih opsi ambil kesepakatan dulu, terus kemudian jelaskan, memang ada risiko, risikonya ada perasaan seperti dilewatkan, ditinggalkan," kata Anies.
Malam itu, Anies dan utusannya di Tim 8 lalu mengontak utusan PKS dan Demokrat untuk bertemu. Namun hingga dini hari, tidak ada jawaban.
"Lalu besok paginya Pak Sudirman bertemu dengan Pak Sohibul Iman dari PKS dan Pak Iftitah dari Demokrat, menyampaikan progres ini. Tujuannya untuk saya bertemu, mendiskusikan soal ini," kata dia.
Menurutnya, pihaknya lalu bertemu dengan perwakilan PKS. Ketika itu, PKS merespons positif ada partai baru di koalisi.
Namun, secara prosedural, PKS merasa tidak suka cara NasDem yang mengambil keputusan sepihak tanpa komunikasi dengan partai koalisi.
Di sisi lain, ia mengatakan saat itu tidak bisa bertemu dengan Demokrat.
"Rabu (30 Agustus) malam itu tidak dapat waktu, ya sudah kalau gitu kita cek besoknya, pagi tetap tidak ada kabar, akhirnya Kamis pagi saya putuskan ke Jombang, karena siang akan pulang. Ketika di sana, kami dapat kabar diterima jam 4 sore, tapi karena pesawat delay, digeser jam 6, kemudian pertemuan digeser lagi jam 7, dan akhirnya tidak jadi bertemu, dibatalkan pertemuannya," katanya.
Demokrat sebelumnya memutuskan untuk mencabut dukungan kepada Anies dan memilih keluar dari KPP.
Keputusan diambil usai Anies memutuskan untuk menggandeng Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai bakal calon wakil presiden.
Demokrat merasa dikhianati. Pasalnya, Anies dan NasDem sudah menandatangani piagam kesepakatan bersama dengan Demokrat, NasDem dan PKS. Tetapi Anies dan NasDem justru membuat kerja sama baru.
Selain itu, Demokrat juga mengungkapkan bahwa Anies pernah meminta AHY untuk menjadi cawapres pendampingnya di Pilpres 2024 mendatang. Permintaan dilakukan melalui panggilan telepon pada 12 Juni dan surat tertulis pada 25 Agustus.***
Artikel Terkait
Saka Dirgantara Rsn Ikuti Air Scout Camp di Bandung
Dua Ganda Campuran Indonesia ke 16 Besar China Open 2023, Ini Lawan Mereka Selanjutnya
Pemprov Riau Harap Lapsitda Bisa Tingkatkan Kinerja
Perjalanan Inspiratif Nengsih Detrianti, Sukses Bangun Bisnis Brownies Richi dengan Pinjaman Modal BRK Syariah
KTT Ke-43, Pemimpin Negara ASEAN Mulai Tiba di Tanah Air
Sebagai Tuan Rumah Porwil Malu Rasanya Kalau Kita Tidak juara Lagi
Penyerahan SK Guru Selesai, BKD Riau Fokus Seleksi PPPK 2023
Berikut Daftar Harga Kelapa Sawit Petani Mitra Swadaya Riau Periode 6-12 September 2023
Sudah Dapat Lisensi! Drama Bai Lu dan Dylan Wang 'Only For Love' Dikabarkan Tayang Bulan Oktober
Akhirnya Ada Momen Lagi! Jun Seventeen dan Lin Yi Bagikan Selca yang Membuat Penggemar Gemes