Bahaya politik dinasti, dinasti politik adalah membunuh masa depan generasi. Anak-anak negerinya sendiri.
"Siapa yang tega, membiarkan Bengkalis menangis?"_
Oleh Agung Marsudi
DURI INSTITUTE
SEORANG pemimpin, bupati misalnya, dikira sangat pro-rakyat, padahal setiap kebijakan yang dibuat, kemudian memberi keluaran berwujud "proyek" berdampak "angka-angka" bernilai miliaran, maka bisa dipastikan manajemen itu berbasis "proyek". Untuk saya apa, untung saya berapa.
Itulah bupati yang bergaya BOS. Padahal sebagai pejabat publik, seorang bupati mestinya menerapkan management by objective system (MBOS).
Buktinya, bisa dilihat, dirasakan berapa banyak proyek-proyek di kabupaten Bengkalis yang mangkrak, dari dibangun hingga jadi, bertahun-tahun tak berfungsi.
Buktinya, bisa dilihat, bagaimana proyek jalan lingkar di Duri melingkar-lingkar. Hingga melingkar-lingkar pula persoalannya, menyebabkan para pelakunya rawan masuk bui (terciduk kasus korupsi).
Buktinya, program-program bantuan sosial kepada masyarakat, diklaim sebagai "bantuannya" padahal itu uang negara.
Logika manajemen seorang bupati di mata rakyat, berbeda dengan isi kepala rakyat, melihat sosok bupati. Pokok pikirannya (pokirnya) adalah tata kelola pemerintahan yang paripurna, dijalankan sesuai aturan perundang-undangan. Bukan pokir, yang jamak dikenal, alokasi anggaran 3 Miliar per anggota dewan, sehingga melahirkan 15 proyek PL, senilai 200 jutaan.
Bupati bukan dewa, yang begitu senang didewakan. Apalagi memiliki daya tekan intimidasi tingkat dewa. Pilkada Bengkalis 2024 adalah momen warga sebagai pemilik kedaulatan, tak perlu takut dengan pilihan.
Hidup itu pilihan, pilihan itu hak asasi. Kalau hak yang paling asasi telah diintimidasi, warga merdeka melawan, dan berganti haluan. Bertahan dengan ketakutan, menunjukkan masyarakat hidup di bawah tekanan.
Suksesi kepemimpinan kabupaten Bengkalis, bukanlah suksesi alami, tapi sederet rencana, berujung politik dinasti. Diawali dari episode "eksodus" sebagian anggota dewan dari "Golkar" pindah ke "PDIP".
Yang kemudian, melahirkan "mosi" tak percaya "sekelompok" anggota dewan Bengkalis. Dan harus dibayar mahal oleh sebagian besar penandatangan mosi hingga "terduduk", mencalonkan tapi tak mendapatkan kursi lagi di Pemilu Legislatif 2024. Ini sebuah kasus hukum dan potret politik pengkhianatan.
Hasilnya, bisa ditebak, dewan Bengkalis kini berbau tak sedap, aroma kekuatan "keluarga". Dulu ada program KB atau Keluarga Berencana. Kini ada KB juga, kepanjangan "Keluarga Berkuasa".
Namanya manajemen keluarga. Ibarat perusahaan keluarga, komisaris bapaknya, direktur ibunya, manajer keuangan anak-anaknya, manajer operasional kerabatnya dengan supervisor kroni-kroninya.
Bahaya politik dinasti, dinasti politik adalah membunuh masa depan generasi. Anak-anak negerinya sendiri. "Siapa yang tega, membiarkan Bengkalis menangis?"
Duri, 6 November 2024
Artikel Terkait
Gairahkan Wakaf di Riau, Pemprov Siapkan Roadmap Pengembangan hingga 2045
Popda XIV Jawa Timur 2024: Kabupaten Sidoarjo Pimpin Klasemen Sementara Balap Sepeda
Sekda Agam Tuntut Program Tepat Sasaran, Fokus Pada Rencana Pembangunan 2025
Menko PMK Pratikno Pimpin Rapat Koordinasi untuk Agenda Prioritas Pembangunan
Kolaborasi Pemkab dan Nagari Jadi Kunci Pengembangan Wisata Agam
Akun Instagram Yoon STAYC Dibanjiri Kritikan Karena Komentarnya di Survival Starlight Boys
Simulasi Program Makan Siang Bergizi dan Gratis di Pekanbaru, Pj Gubri Pastikan Nutrisi yang Tepat untuk Siswa SMA/SMK
Serba Salah! Ahyeon BABYMONSTER Disorot Negatif Lagi Usai Ubah Tariannya Jadi Lebih Santai di Comeback Terbaru
Pegadaian Sosialisasikan Pentingnya Melek Investasi dan Pembiayaan Mikro di Pekanbaru
Simulasi Perdana Program Makan Siang Bergizi dan Gratis di Provinsi Riau Berjalan Sukses