politik

Ini Profil Ramos Teddy Sianturi, Caleg DPR RI Dapil Riau 1 yang Hidupnya Penuh Perjuangan

Sabtu, 11 November 2023 | 18:31 WIB
Ramos Teddy Sianturi.

RIAUMAKMUR.COM- Menjadi seorang perantauan di daerah yang terisolir, bukanlah sebuah rintangan bagi Anggota DPRD Riau Fraksi Golkar, Ramos Teddy Sianturi. Suka duka sudah dia hadapi di usia muda hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.

Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar di tahun 1990an, kata Ramos Teddy Sianturi, merupakan daerah yang sangat sulit dijangkau, jangankan mobil, sepeda motor pun cukup sulit melintas di daerah tersebut.

Namun, Ramos Teddy Sianturi yang kala itu masih berusia 27 tahun tak surut dalam rintangan tersebut. Menumpang hidup dengan saudaranya dari Kisaran, Sumatera Utara, Ramos berhasil melewati itu.

Baca Juga: Profil Abu Khoiri, Anggota DPRD Provinsi Riau 'Low Profile' yang Sering Serap Aspirasi di Kedai Kopi

Ramos bercerita, dia datang ke Tapung atas perintah dari ayahnya, yang saat itu resah melihat pergaulan Ramos dengan 'bandit-bandit', sehingga memisahkan Ramos dari teman-temannya dianggap sebagai solusi terbaik.

"Saya disuruh ayah saya ke Tapung, karena di lingkungan saya banyak tindak kriminal, semua jenis kejahatan ada disana, daripada saya terjebak dalam lingkungan itu, saya dikirim ke Tapung. Apalagi saya sudah tak dapat kasih sayang ibu lagi, karena ibu saya meninggal tahun 1988," katanya.

Awal mula di Tapung, pria kelahiran 11 April 1965 ini mengungkapkan, dirinya tidak memiliki pekerjaan tetap, dia hanya bekerja serabutan, mulai dari mendodos sawit hingga memupuk sawit di kebun Plasma PTPN Sungai Garo.

Baca Juga: Biografi Syahrial, Wakil Ketua DPRD Bengkalis yang Pernah Jualan Ikan dan Menambang Pasir

Sedikitpun Ramos tak memiliki rasa takut, karena keinginan untuk mengubah nasib membuat Ramos menjadi sosok pemberani. Apalagi ayahnya merupakan orang tua yang sangat keras dalam mendidik anak.

Tak hanya sebatas kebun, Ramos juga sempat berburu di hutan, baik untuk dia konsumsi pribadi ataupun dia jual. Hewan buruannya adalah babi dan ular. Semua dia lakukan asalkan tidak menganggu orang lain, apalagi mencuri.

Beberapa tahun menjalani aktivitas begitu, Ramos akhirnya menikah pada tahun 1994. Dari sinilah pintu rezeki Ramos mulai terbuka, dia sukses membuka usaha veron kelapa sawit atau pengepul.


"Waktu itu sawit masih Rp 100, saya menjadi pengepul. Uang terkumpul, saya beli motor bekas, jam 3 pagi saya ngojek, sebelumnya cuma pakai sepeda onthel," ujarnya.

Disamping itu, berkat kemampuan istrinya dalam mengelola keuangan, Ramos berangsur-angsur membeli tanah milik orang trans yang tak ingin tinggal di Tapung dan memilih pulang ke Jawa.

"Orang-orang trans ini kan banyak juga yang tak tahan, dijual lah kebunnya ke saya, itu saya beli harganya Rp 1,4 juta per 2 hektar. Disela menanam sawit, saya juga menanam nenas dan semangka," katanya.

Kehidupan Ramos semakin membaik pasca reformasi, tepatnya tahun 1998-1999, dimana saat itu harga sawit naik menjadi Rp 500. Relasi Ramos juga semakin banyak, sehingga dia mampu menyewa mobil untuk mengangkut sawit.

Pasang surut kehidupan pun dirasakan Ramos, dimulai dari kelahiran anak pertamanya di tahun 1995, dimana dia sempat menggadaikan hingga menjual tanah untuk biaya persalinan dan biaya operasi usus buntu istrinya.

"Saya kan cuma punya tanah, gak punya uang, akhirnya saya pinjam uang sama rentenir, kerepotan juga pas membayarnya, akhirnya terjual lah beberapa lahan saya," tuturnya.

Ramos juga pernah kehilangan banyak lahannya karena dirinya sempat menjadi seorang pejudi dan pemabuk. Syukurlah, istrinya masih setia dan sabar hingga akhirnya Ramos sadar.

"Sadarnya pas udah banyak yang terjual, kami sempat hidup susah lagi, tapi karena saya sudah sadar, saya perlahan bangkit lagi," katanya.

Mulai Berpolitik Berkat Ajakan Annas Maamun

Dikenal sebagai seorang toke sawit, nama Ramos pun terkenal tidak hanya di sekitar Tapung saja, namun sudah sampai ke wilayah-wilayah Riau. Hingga akhirnya dia dihubungi oleh Bupati Rokan Hilir, Annas Maamun, yang saat itu maju sebagai Calon Gubernur Riau.

Ramos pun diminta oleh Annas untuk memenangkan dia di Tapung pada tahun 2012 sampai 2013. Berkas perjuangan Ramos dalam berkampanye, Annas Maamun menang telak di Tapung.

Sebagai penghargaan atas keberhasilan Ramos ini, Annas Maamun yang saat itu sudah menjadi Ketua DPD Golkar Riau, memberikan kursi Caleg DPRD Riau Dapil Kampar untuk Ramos.

Pinangan dari Golkar ini tentu diterima oleh Ramos, karena dia ingin berbuat lebih banyak untuk masyarakat. Apalagi dia maju dari Partai Golkar, partai yang tidak asing bagi dia.

"Ayah saya kader Golkar sampai meninggal tahun 2005, karena ayah saya seorang kepala sekolah. Makanya, saya langsung terima tawaran Tuk Annas," katanya.

Di Pemilu 2014 itu, Ramos menghadapi nama-nama beken, salah satunya Masnur. Yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kampar dan juga Ketua DPRD Kampar.

Berasal dari etnis Batak apalagi beragama Kristen, Ramos dianggap sepele oleh beberapa orang dan kerap menjadi korban kampanye hitam. Namun, dia tetap fokus untuk bisa menang.

Akhirnya, Ramos berhasil mengungguli suara Masnur dengan mendapatkan suara 27 ribu, sementara Masnur hanya 21 ribu. Golkar pun mendapat dua kursi di Dapil Kampar.

"Bangga saya bisa jadi anggota dewan, saya bisa membantu dalam jumlah banyak, terutama kalau Pokir saya terealisasi, itu kebanggaan yang tak bisa diukur materi. Belum lagi kalau saya bisa fasilitasi masyarakat berobat di rumah sakit umum, sangat sangat bangga saya," ceritanya.

Meski terpilih sebagai Anggota DPRD Riau dua periode, Ramos tetap menjadi seseorang yang rendah hati. Bahkan, sampai hari ini, rumah Ramos tidak diberi pagar karena dia tak ingin membatasi masyarakat untuk datang ke rumah.


Maju ke DPR RI Dapil Riau 1

Setelah merasa memiliki kemampuan serta pengalaman yang cukup, kini ayah empat anak ini memutuskan untuk maju sebagai Calon Anggota DPR RI dari Dapil Riau 1.

Ramos melihat, dengan duduk di parlemen senayan, dia bisa berbuat lebih banyak untuk masyarakat Riau ketimbang di DPRD Riau. Sebab, kewenangan DPR RI jauh lebih besar dari DPRD.

Ramos bahkan sudah membentuk tim di setiap kabupaten yang masuk dalam Dapil Riau 1. Ini merupakan bentuk keseriusan Ramos dalam menghadapi kontestasi Pemilu 2024.

Disinggung soal lawannya di Pileg DPR RI nanti seperti nama Syamsuar, Arsyadjuliandi Rachman, Karmila Sari, dan nama-nama beken lainnya, Ramos mengaku tidak gentar.

"Saya justru merasa bangga karena bisa melawan mereka, saya bisa berkolaborasi dengan tokoh besar Golkar. Kalah pun nanti saya tetap bangga, kalau menang saya anggap itu prestasi," tuturnya.***

Tags

Terkini