RIAUMAKMUR.COM, PEKANBARU - Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, rencananya akan dilantik sebagai Presiden RI Periode 2024-2029 besok, Minggu (20/10/2024), setelah perjuangan panjang selama puluhan tahun.
Menanggapi hal itu, politisi senior Partai Gerindra Riau, Marwan Yohanis, mengaku bangga dan terharu karena melihat langsung bagaimana Prabowo Subianto 'jatuh bangun' dalam mengejar cita-citanya.
Menurut Marwan Yohanis yang pernah menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra Riau ini, Prabowo Subianto adalah seorang patriot, yang memiliki rasa cinta luar biasa terhadap negara ini.
"Banyak yang cinta pada negara ini, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, saya melihat tidak ada yang melebihi rasa cinta Pak Prabowo kepada bangsa dan negara ini, sehingga dia mengeluarkan effort yang luar biasa juga bagaimana negara ini menjadi makmur dan sejahtera," ujar Ketua Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) Provinsi Riau ini, Sabtu (19/10/2024).
"Beliau berjuang jatuh bangun, kalau istilah beliau, kalau jatuh ya bangun, kalau jatuh lagi ya bangun lagi, begitu sikap pantang menyerah beliau," tambahnya.
Prabowo, jelas Marwan, sempat menetap di Negara Yordania beberapa waktu, dan selama itu pula melakukan perenungan tentang negaranya, dan kemudian membulatkan tekad untuk membangun negara ini. Hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Langkah pertama yang diambil Prabowo adalah mengikuti konvensi Partai Golkar di Pilpres 2004, sebagai Calon Presiden. Dia bersaing dengan nama sekaliber Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan nama-nama senior partai lainnya.
Waktu itu Prabowo memang belum bisa maju di Pilpres, namun dari sana Prabowo memahami bahwa ada antrean panjang di Golkar, sehingga dia harus mencari cara lain.
"Setelah itu, Pak Prabowo berjumpa tokoh pergerakan, Tokoh politik, Tokoh ekonomi, dan beberapa pemikir lainnya, dan sampailah pada kesimpulan bahwa Pak Prabowo harus membentuk partai baru," katanya.
Salah satu pertimbangan besar waktu itu adalah cost antara mengikuti konvensi dengan mendirikan partai tidak begitu jauh berbeda. Tapi mendirikan partai memberi ruang besar kepada Prabowo untuk berkontribusi membangun negara.
"Ternyata langkah mendirikan partai ini sangat tepat, karena walau belum menjadi presiden pun, Pak Prabowo sudah bisa berkontribusi untuk menentukan arah pembangunan negara ini, karena punya pejuang partai di lembaga legislatif. Kita bisa lihat sekarang bagaimana Anies Baswedan yang tidak punya partai, akhirnya potensinya sulit dikembangkan," tuturnya.
Tepat 6 Februari 2008, Prabowo akhirnya meresmikan berdirinya sebuah partai bernama Gerindra yang merupakan akronim dari Gerakan Indonesia Raya.
Di usia yang masih seumur jagung, Gerindra harus menanggung banyaknya fitnah dan caci maki yang luar biasa dari lawan politik, dimana semua yang berkaitan dengan tragedi 1998 langsung disangkutpautkan dengan Gerindra dan Prabowo.
"Tapi Pak Prabowo tak menyerah, beliau tetap dengan niat awalnya, sampailah akhirnya beliau mencalonkan diri di Pilpres 2009 mendampingi Ibuk Megawati Soekarnoputri. Meskipun yang menang waktu itu adalah pasangan SBY - Boediono," ujarnya.
Marwan merasakan sendiri bagaimana sulitnya para kader Gerindra bergerak di usia awal-awal kelahirannya, dimana fitnah dan caci maki yang diciptakan oleh media, menyebabkan masyarakat akhirnya termakan oleh isu-isu tersebut.
"Masyarakat itu tak mau ikut acara partai karena termakan oleh banyak isu fitnah, sosialisasi kami tak banyak peserta, tapi Pak Prabowo terus memotivasi kami untuk tetap membesarkan partai ini," katanya.
Fitnah terus berlanjut sampai Prabowo kembali maju di Pilpres 2014, dan lagi-lagi takdir belum memberikan kemenangan kepada Prabowo Subianto yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa. Saat itu, Prabowo kalah oleh pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla.
Hal yang sama terjadi di tahun 2019, dimana Prabowo kembali maju menghadapi Joko Widodo yang berdampingan dengan Ma'ruf Amin. Dan Prabowo kembali menelan kekalahan.
"Beliau kalah di 2009, 2014, dan 2019, bermacam-macam kalimat kebencian yang diberikan kepada beliau, beliau dianggap orang yang ambisius dan sentimen negatif lainnya. Tapi bagi kami yang ada dalam garis perjuangan ini sangat paham bahwa apa yang dilakukan Pak Prabowo adalah bentuk kecintaan kepada ibu pertiwi, dan dia tak peduli sentimen negatif lawan politik," terangnya.
Kekalahan tiga kali berturut-turut ternyata tak mengurangi rasa cinta Prabowo kepada Ibu Pertiwi, bahkan semakin bertumbuh. Buktinya, dia selalu mengenyampingkan perasaan pribadi untuk kemajuan bangsa.
"Rasa cinta kepada bangsa lah yang membuat Pak Prabowo akhirnya mau bergabung dengan Pak Jokowi, kalaulah bukan karena sikap negarawan sulit rasanya bergabung dengan Pak Jokowi, orang yang sudah dia besarkan, dan kemudian mengalahkan dia di dua Pilpres," tambahnya.
Alasan terkuat Prabowo bergabung dengan Jokowi adalah tingginya konflik antara 'cebong dan kampret', yang membuat perpecahan di arus bawah, sehingga rekonsiliasi di tingkat elit menjadi cara menghentikan keributan dua kubu tersebut.
"Ini adalah contoh orang yang sangat demokratis, orang yang sangat mencintai Republik, sehingga mau menurunkan egonya demi kepentingan rakyat dan bangsanya," tuturnya.
Sebagai orang yang memiliki wawasan luas, melihat banyak rekonsiliasi di dunia internasional yang berhasil menjaga kondusifitas sebuah negara, salah satunya adalah Abraham Lincoln dengan Willem Seward.
Dimana, ada junior yang telah mengalahkan seniornya, tapi pada akhirnya dia merangkul seniornya tersebut ke dalam sistem pemerintahan. Kedua belah pihak menurunkan egonya untuk kepentingan negara.
"Abraham itu berkata bahwa mereka berseteru karena sama-sama mencintai negara ini, jadi bukan karena kebencian antar satu sama lain. Dan ada lagi sejarah di negara lain yang menjadi referensi Pak Prabowo," tambahnya.
Lebih jauh, Marwan mengapresiasi mulusnya peralihan kekuasaan dari kepemimpinan Presiden Jokowi kepada Prabowo Subianto. Menurutnya, hal ini bisa tercipta jika ada ketulusan dalam jiwa pemimpin.
'Ini adalah buah manis yang kita petik dari sikap negarawan Pak Jokowi dan Pak Prabowo, kalaupun ada yang menciptakan isu-isu perpecahan, kita harus pahami bahwa pembenci akan selalu mencari celah," katanya.
"Pak Prabowo tidak pernah gentar dalam memperjuangkan kemajuan bangsa dan negaranya, dan beliau ingin mengabdikan dirinya untuk bangsa ini. Ketulusan Pak Prabowo ini bahkan sudah diakui oleh Presiden Gus Dur, yang mengatakan bahwa orang yang paling ikhlas itu adalah Prabowo Subianto," tutupnya.***