RIAUMAKMUR.COM, PEKANBARU - Pemerintah meminta semua pihak untuk mewaspadai kelangkaan pangan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan situasi geopolitik dunia.
“Kenaikan suhu bumi, kekeringan di mana-mana, kemarau panjang, sehingga menyebabkan gagal tanam, menyebabkan gagal panen. Dan super El Nino yang ada di tujuh provinsi di negara kita juga mempengaruhi pasokan pangan pada rakyat kita Indonesia," kata Presiden Jokowi dikutip Sabtu (30/9/2023).
Plus ditambah yang kedua, kata Presiden Jokowi, yang pertama ancaman perubahan iklim, yang kedua juga yang berkaitan dengan geopolitik dunia, yang juga berpengaruh pada pasokan pangan.
Ia menyampaikan, krisis geopolitik dunia yang menyebabkan kelangkaan pangan itu disebabkan oleh perang antara Rusia dan Ukraina.
Perang dua negara penghasil gandum terbesar itu menyebabkan sebanyak 207 juta ton gandum tidak bisa diekspor karena alasan keamanan.
Sehingga yang terjadi adalah di Afrika, di Asia maupun di Eropa sendiri kekurangan pangan itu betul-betul nyata dan terjadi.
"Harga yang naik secara drastis dan bahkan kemarin saya membaca sebuah berita, di satu negara maju di Eropa, anak-anak sekolah banyak yang sudah tidak sarapan pagi. Yang biasanya sarapan pagi, sekarang ini sudah tidak sarapan pagi karena kekurangan bahan pangan, karena mahalnya bahan pangan,” kata Presiden.
Kelangkaan pangan yang terjadi di seluruh dunia tersebut, membuat sebanyak 22 negara menghentikan ekspor pangan, termasuk beras, untuk mengamankan pasokan di negaranya masing-masing.
“Ada Uganda, Rusia, India, Bangladesh, Pakistan, dan Myanmar terakhir juga akan masuk lagi tidak mengekspor bahan pangannya. Betapa nanti kalau ini diterus-teruskan ini semua harga bahan pokok pangan semuanya akan naik,” imbuhnya.
Oleh sebab itu, Presiden menegaskan perlunya visi taktis yang memuat rencana kerja detail dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan terkait program kedaulatan pangan.
Menurutnya, kedaulatan pangan sangat diperlukan untuk menghadapi peningkatan jumlah penduduk yang terus bertambah.
“Kita tahu penduduk kita sudah 278 juta, penduduk kita saat ini sudah 278 juta. Dunia juga sudah lebih dari 8 miliar, penduduk dunia, dan akan terus bertambah," ungkapnya.
Di tahun 2030 diperkirakan sudah mencapai 310 juta, karena pertumbuhan penduduk kita 1,25 persen kenaikannya per tahun. Artinya sekali lagi, pangan menjadi kunci.
"Seperti yang disampaikan oleh Bung Karno, pangan merupakan mati hidupnya suatu bangsa, itu betul sekali, beliau sudah melihat kejadian yang sekarang ini kita alami,” tegasnya.
Artikel Terkait
Waduh, BBPOM Pekanbaru Temukan 5 Sarana Produk Pangan Tanpa Izin Edar hingga Kerupuk Positif Boraks
Idul Fitri 2023, Pemerintah Jamin Stok Pangan Aman
Antisipasi Kekurangan Pangan, Ini Usaha Yang Dilakukan Pemprov Riau
HIPMI Apresiasi Kebijakan Badan Pangan Nasional Soal Pola Pangan Harapan
Kadispora Pekanbaru Jalankan Program BAAS, Kembali Beri Bantuan Pangan Pada Kedua Anak Asuhnya
Lumbung Pangan, Gubri Syamsuar Siap Bantu Tingkatkan Produksi Padi di Inhil
Bahas Pangan, Energi, dan Limbah, Unilak Gelar Seminar Nasional
Kadispora Pekanbaru Rutin Salurkan Bantuan Pangan Bagi Anak Asuh Stunting
Analisis BPS RI: Komoditas Pangan dan Tarif Sekolah Berpotensi Jadi Penyebab Inflasi Juli
Kolaborasi Pertamina Patra Niaga Dengan Masyarakat, Usung Kampung Pangan Madani dan Ekowisata Pulau Semut di P
Wujud Program Ketahanan Pangan, Koramil 07/ Kampar Lakukan Pendampingan Petani
Presiden Jokowi Cek Harga Pangan di Pasar Sukaramai Medan
Presiden Tinjau Harga Komoditas Pangan di Pasar Grogolan Baru Pekalongan
Belum Diterima, Pemprov Riau Kembali Bahas Pembentukan UPT Pengelolaan Pangan Strategis
Festival Pangan Lokal di Provinsi Riau Resmi Digelar
Gubri Syamsuar dan Bank Indonesia Luncurkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan di Desa Pambang Baru
Ini Kata Kepala BI Riau Soal Aksi Pengendalian Inflasi Pangan di Daerah