Unan-unan, Tradisi Bersyukur dan Pengharapan Suku Tengger

photo author
Ikhwan RM, Riau Makmur
- Rabu, 24 April 2024 | 12:56 WIB
Unan-unan, Tradisi Bersyukur dan Pengharapan Suku Tengger.
Unan-unan, Tradisi Bersyukur dan Pengharapan Suku Tengger.

RIAUMAKMUR.COM - Di tengah perbukitan indah Desa Ranupani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, Jawa Timur terdapat tradisi yang telah terpelihara selama berabad-abad, yakni Ritual Adat Unan-unan Tengger.

Di pagi Selasa (23/4/2024) yang cerah, para penduduk dan pemuka adat Suku Tengger berkumpul untuk merayakan momen yang tak hanya melambangkan syukur, tetapi juga menjaga keharmonisan dengan alam dan leluhur mereka.

Saat diwawancarai, Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang Agus Triyono dengan penuh kehangatan menyampaikan makna mendalam di balik tradisi tersebut.

Baca Juga: Tradisi Permainan Meriam Karbit di Pontianak Jadi Magnet Wisatawan

"Unan-Unan yang kita laksanakan di Desa Ranupani adalah cermin dari rasa syukur yang mendalam. Kami, sebagai bagian dari alam ini, merasa berkewajiban untuk merawatnya. Semoga kita dilindungi dan diberkahi," katanya sambil tersenyum.

Ritual Unan-unan, sebuah warisan leluhur yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali, di tahun yang Suku Tengger sebut sebagai 'Landung'. Ini adalah penanda penting dalam kalender mereka yang terdiri dari 13 bulan, sebuah sistem waktu yang unik dan menggambarkan hubungan khusus mereka dengan alam.

Unan-unan, yang berasal dari kata "Una" yang berarti memperpanjang, tak hanya mempersembahkan rasa syukur, tetapi juga upaya untuk memperpanjang bulan dalam kalender tradisional Tengger. Ini adalah simbol dari kesatuan mereka dengan alam dan langit.

Baca Juga: Mengenal Laela Ma Rameng, Tradisi Pawai Obor Sambut Lailatul Qadar di Tidore Kepulauan

Sekda Agus Triyono menambahkan bahwa ritual tersebut adalah bentuk penghormatan kepada leluhur, serta doa agar keberkahan terus mengalir bagi masyarakat Desa Ranu Pani. Hari puncaknya tidak hanya diwarnai oleh kesyukuran, tetapi juga 'sajen' berupa kepala kerbau yang dihias indah, menjadi simbol dari pengorbanan dan harapan yang mereka bawa.

Para warga Tengger kemudian mengarak 'ancak' yang memuat sajen tersebut menuju Sanggar Pamujan, tempat peribadatan yang menjadi pusat ritual. Di sana, doa-doa dipanjatkan, harapan diungkapkan, dan ikatan dengan alam serta leluhur diperkuat.

"Harapan kami adalah kelimpahan rezeki dan keselamatan bagi kita semua, dan untuk generasi mendatang. Semoga kita tetap di bawah lindungan Tuhan dan leluhur kami," pungkasnya, menutup cerita ini dengan doa yang mendalam.

Baca Juga: Pemerintah Budayakan Tradisi Balimau Kasai di Kampar

Dari Desa Ranupani, satu lagi kisah tentang kesyukuran, tradisi, dan ikatan manusia dengan alam telah diceritakan, sebuah cerita yang tak akan pudar dari ingatan mereka. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ikhwan RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X