Angkat Tema Ekonomi Hijau Berkelanjutan Peringatan Hari Otoda 2024, Mendagri: Harus Segera Direalisasikan

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Kamis, 25 April 2024 | 20:27 WIB
Angkat Tema Ekonomi Hijau Berkelanjutan Peringatan Hari Otoda 2024, Mendagri: Harus Segera Direalisasikan
Angkat Tema Ekonomi Hijau Berkelanjutan Peringatan Hari Otoda 2024, Mendagri: Harus Segera Direalisasikan

RIAUMAKMUR.COM - Peringatan Hari Otonomi Daerah (Otoda) XXVIII tahun 2024 tahun ini mengangkat tema otonomi daerah berkelanjutan menuju ekonomi hijau dan lingkungan yang sehat. 

Mendagri Tito Karnavian menjelaskan, tema ini merupakan tekad bangsa Indonesia untuk memperkokoh tanggung jawab dan kesadaran pemerintah termasuk Pemda akan amanah untuk membangun keberlanjutan dan pengelolaan Indonesia, termasuk Sumber Daya Alam dan lingkungan hidup.

Sebutnya, tema ini sekaligus dalam rangka mempromosikan model ekonomi ramah lingkungan sekaligus menciptakan pembangunan berkelanjutan untuk generasi muda mendatang. 

Baca Juga: Pesan Penting Kapolda Riau di Halal Bihalal Polresta Pekanbaru

Disamping itu terangnya, tema yang dipakai atau yang diterapkan tahun ini mengenai green ekonomi dan ramah lingkungan tidak lain adalah sebagai konsekuensi yang harus dilakukan termasuk Indonesia, dengan adanya bahaya yang tidak ringan di masa mendatang yaitu perubahan lingkungan. 

"Pada tahun 2015 telah ditandatangani perjanjian internasional yang dikenal dengan sebagai Paris Agreement 2015 yang menyepakati untuk mitigasi terhadap kenaikan temperatur perubahan iklim. Karena zat emisi yang berlebihan terutama karbon, dan kemudian beradaptasi dengan lingkungan yang ramah lingkungan serta sekaligus juga untuk skema pembiayaan. Ini sebagai konsekuensi yang harus dilakukan termasuk Indonesia," ucapnya, di Surabaya, Kamis (25/4/24). 

Mendagri menjelaskan, perubahan cuaca adalah suatu ancaman yang tidak kecil bahkan lebih besar dari pada COVID-19. Sebab, perubahan cuaca karena gas emisi berlebihan khususnya penggunaan karbon ini akan dapat menimbulkan efek rumah kaca yang menaikkan temperatur dunia.

Baca Juga: Pilkada Serentak 2024, Bawaslu Meranti Evaluasi dan Rekrut Ulang Petugas Panwascam

Dia mengungkapkan, kenaikan temperatur dunia di atas 2 persen akan berakibat yang sangat besar bagi dunia. Karena es yang ada di Kutub Utara maupun Kutub Selatan akan mencair dan menaikkan tinggi permukaan laut. 

Sehingga daerah-daerah yang rendah termasuk pulau-pulau, misalnya yang hanya ketinggian tertinggi 2 meter itu akan tenggelam. 

Kemudian, daerah-daerah yang ada di pinggiran pantai akan terjadi abrasi dan kemudian terjadi penurunan muka tanah inilah perlu diwaspadai bersama. 

Baca Juga: Ketua HKR Dorong Putra Putri Terbaik Rokan Hulu Maju Pilkada

"Target dari Paris Agreement inilah kenaikan temperatur harus di bawah 2 derajat celcius bahkan disepakati 1,5 derajat celcius. Konsekuensinya dunia harus bisa menurunkan terutama karbon 50 persen sebelum tahun 2030," ujar dia. 

Tito Karnavian melanjutkan, kenaikan temperatur juga akan memicu bencana meteorologi dan geofisika, banjir, El Nino, La Nina, kemarau yang panjang, kemudian curah hujan berlebihan itu akan membuat terjadinya bencana-bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang kemudian tanah longsor dan lain-lain.

Oleh karena itulah terangnya, seluruh dunia melalui Paris Agreement sepakat baik pemerintah maupun non pemerintah untuk mengurangi karbon atau gas emisi rumah kaca sebanyak 50 persen. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X