RIAUMAKMUR.COM – Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Pemerintah Papua Nugini melalui Departemen Pendidikan Nasional, bersepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan dalam pertemuan bilateral di Istana Presiden, Bogor.
Kerja sama itu diwujudkan melalui penandatanganan Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding/MoU) bidang pendidikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) RI, Nadiem Anwar Makarim, dan Menteri Luar Negeri Papua Nugini. Sebelumnya, pada 2023, juga telah ditandatangani MoU bidang pendidikan tinggi antara Kementerian Luar Negeri Indonesia dan Departemen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Papua Nugini.
Menurut keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Selasa (16/7/2024), Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia menyambut baik upaya kedua negara dalam menjaga kerja sama pendidikan melalui naskah kerja sama yang akan berlaku hingga 2033. Adapun ruang lingkup kerja sama itu meliputi program pertukaran pelajar, penelitian bersama, beasiswa, pengembangan kurikulum, pembelajaran bahasa, dan program pelatihan.
Baca Juga: Perempuan Riau Berdaya Lewat SheHacks Innovate Bersama Indosat Ooredoo Hutchison
“Selama lima tahun terakhir, melalui gerakan transformasi Merdeka Belajar, pemerintah Indonesia terus mendorong perwujudan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan relevan. Pembelajaran di sekolah kini semakin berpusat pada murid, memungkinkan pengembangan bakat dan minat secara optimal. Semua ini merupakan upaya untuk melahirkan sumber daya manusia unggul dengan karakter pembelajar sepanjang hayat,” tutur Nadiem.
Revitalisasi pendidikan vokasi turut menjadi fokus utama dari Merdeka Belajar yang dilakukan untuk menghasilkan lulusan yang lebih siap bekerja, melanjutkan pendidikan, atau menjadi wirausaha. Saat ini, terdapat lebih dari 2.000 SMK Pusat Keunggulan yang mengedepankan skema taut suai (link and match) untuk mempererat kolaborasi antara satuan pendidikan vokasi dengan dunia kerja dan industri. Kemendikbudristek juga mendukung kerja sama itu melalui skema pemadanan pendanaan atau matching fund.
Di jenjang pendidikan tinggi, Kemendikbudristek memberikan kemerdekaan lebih luas bagi mahasiswa untuk belajar di luar kampus melalui program Kampus Merdeka, salah satunya Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa akademik dan vokasi untuk magang di perusahaan kelas dunia.
Baca Juga: Menuju Bengkalis Transparansi Award 2024, Ini Pesan Bupati
Untuk program kerja sama, kedua negara dapat mengeksplorasi kolaborasi lebih lanjut melalui pelatihan bagi guru vokasi di Papua Nugini menggunakan skema upskilling dan reskilling, pelatihan daring atau luring, pelatihan campuran (institusi dan industri), pelatihan magang penuh di industri, atau pelatihan kerja.
“Pelatihan bagi mahasiswa lulusan pascasarjana Papua Nugini dapat dilakukan dengan skema pelatihan 3 bulan dan 6 bulan untuk program Pendidikan Keterampilan Kerja (PKK) dan Pendidikan Keterampilan Wirausaha (PKW),” terang Nadiem.
Nadiem juga menguraikan sejumlah kemitraan antara kedua negara yang melibatkan keikutsertaan peserta didik dari Papua Nugini. “Saat ini, ada dua mahasiswa Papua Nugini yang berpartisipasi dalam program Beasiswa Darmasiswa periode 2024/2025. Kemudian, untuk Program Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), pada tahun 2024, ada tiga siswa dari Papua Nugini yang berpartisipasi dalam program ini. Saya berharap kita dapat mendorong lebih banyak siswa atau pemuda Papua Nugini untuk berpartisipasi dalam program-program tersebut.”
Baca Juga: Penyelenggara Pemilu Harus Maksimal Dalam Pemutakhiran Data Pemilih
Dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), sejak 2017, Indonesia telah mengirim 12 guru atau dosen untuk mempromosikan dan mengajar Bahasa Indonesia. Jumlah pemelajar BIPA saat ini mencapai 600 orang yang tersebar di lima lokasi pengajaran, yaitu Kedutaan Besar Republik Indonesia di Papua Nugini, Provinsi Popondeta, Provinsi Lae, Provinsi Jiwaka, dan Universitas Goroka. Peningkatan ini menunjukkan minat yang besar dari siswa Papua Nugini untuk terlibat dalam pertukaran budaya yang bermakna, memupuk pemahaman bersama, dan memperkuat kemitraan antara kedua negara.
Nadiem juga menyampaikan komitmen Indonesia untuk meningkatkan proses pengajaran dan pembelajaran di Papua Nugini dengan memberikan dukungan dan mengirimkan tenaga pengajar serta keahlian dalam kurikulum atau bidang lain yang dibutuhkan oleh Papua Nugini melalui KBRI di Port Moresby.
Artikel Terkait
Menpora Apresiasi Langkah Cepat Sumut Tuntaskan Persiapan PON
Bobby Minta Dukungan Kader Golkar di PIlgub Sumut
Salurkan Anggaran Pilkada 100 Persen, Sumut Raih Penghargaan
Minggu Kedua Juli, IPH Padang Panjang Peringkat Kedua Terendah se-Indonesia
Gelar Matsama, Siswa Baru MAN 1 Dibekali Etika Digital
Pj Wako Sonny dan Keluarga Dicoklit untuk Pilkada 2024
Kanwil Kemenkumham Riau Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat
Penyelenggara Pemilu Harus Maksimal Dalam Pemutakhiran Data Pemilih
Menuju Bengkalis Transparansi Award 2024, Ini Pesan Bupati
Perempuan Riau Berdaya Lewat SheHacks Innovate Bersama Indosat Ooredoo Hutchison