Gaungkan Sejarah Pers, Kemkominfo Ajak Jurnalis Kunjungi Musem Penerangan

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Selasa, 6 Agustus 2024 | 07:00 WIB
Salah satu koleksi yang dipamerkan di Museum Penerangan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. (ANTARA/Pamela Sakina)
Salah satu koleksi yang dipamerkan di Museum Penerangan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. (ANTARA/Pamela Sakina)

Baca Juga: BPBD Tuban Tanggap Kekeringan dengan Program Mas Lindra Berkibar

Di lantai satu, terdapat lebih dari 100 alat komunikasi yang pernah dipakai rakyat Indonesia, mulai dari kentongan, koran, koleksi radio yang dahulu dibawa penjajah, televisi, kamera, dan banyak lainnya.

Pada bagian lain juga nampak radio transistor Tjawang yang merupakan buatan lokal saat itu dengan pabrik yang berlokasi di daerah Cawang. Juga radio Ralin Philips dan Radio Telefunken yang diproduksi di luar negeri.

Demikian juga motor yang menemani Wakil Presiden Adam Malik bermerek Cyrus Sundapp 49cc, juga terpampang. Termasuk kendaraan-kendaraan yang saat itu disebut dengan Muviani dan menjadi kendaraan yang selalu dipakai juru penerang.

 

Ada juga meja putar piringan hitam yang digunakan RRI mulai tahun 1958 ditempatkan di kamar kontrol siaran sebagai kelengkapan peralatan studio untuk menunjang siaran sehari-hari.

Terdapat juga satu dari 10 ribu televisi bermerek Ralin Philips produksi Jerman yang dulu sempat disebarkan di Indonesia untuk menyaksikan Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta.

Set film televisi Si Unyil juga ada di Muspen. Film ini pertama kali ditayangkan pada 5 April 1981 di TVRI. Unyil sangat dekat dengan kehidupan keseharian karena memang menceritakan kehidupan sehari-hari anak seorang petani.

 

Di museum ini terdapat juga bukti fisik mesin ketik huruf Jawa, mikrofon RRI Balong, pesawat penerima televisi pertama di Indonesia, kamera perekam pelantikan Presiden Soeharto pada 1971, sepeda motor juru penerang, seragam juru penerangan. Bahkan kamera untuk membuat film pertama buatan Indonesia, Darah dan Doa, yang syuting hari pertamanya pada 30 Maret 1950. Kelak pada tanggal yang sama diperingati sebagai hari film nasional. Film ini mengisahkan cerita Komando Daerah Militer III/Siliwangi dan pemimpinnya Kapten Sudarto saat berkirab menuju Jawa Barat.

Berbagai penghargaan di ajang perfilman juga dipamerkan, sebutlah Piala Bing Slamet, Piala Citra, Piala Sjaiful Bachri, Piala Vidya Widyawati, Piala Kartini, dan Piala Ismail Marzuki terpampang rapi.

Selain peralatan yang berada di dalam museum, di luar terdapat mobil-mobil bersejarah yang berjajar dengan rapi, antara lain mobil siaran luar Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X