Menbud: Kartu Pos dan Perangko sebagai Alat Diplomasi Budaya Indonesia

photo author
Hasmawi RM, Riau Makmur
- Sabtu, 15 Maret 2025 | 10:00 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam Peluncuran Buku. (InfoPublik)
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam Peluncuran Buku. (InfoPublik)

RIAUMAKMUR.COM - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis Indonesia menggelar acara Peluncuran Buku dan Pameran “Buitenzorg Pada Sekeping Kartu Pos di Museum Balai Kirti, Kompleks Istana Bogor.

Acara itu menyajikan serangkaian kegiatan, termasuk peluncuran buku “Kartu Pos Dari Buitenzorg”, pameran kartu pos, diskusi buku, dan workshop filateli, yang bertujuan melestarikan warisan budaya Indonesia.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, menekankan bahwa kartu pos dan benda filateli merupakan bagian penting dari material culture yang menggambarkan perjalanan sejarah suatu bangsa.

Baca Juga: Ceriakan Senyum Anak Yatim, BRI Hadir Berbagi Bahagia Serahkan Santunan

“Ini adalah upaya yang sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan untuk melestarikan warisan budaya dan mengenalkannya pada generasi mendatang. Kartu pos dan benda filateli ini penting karena pada masanya, orang akan semakin menghargai benda-benda fisik yang dapat mendokumentasikan sejarah dan identitas bangsa,” ungkap Menbud dalam Peluncuran Buku "Kartu Pos Dari Buitenzorg" dan Pembukaan Pameran Kartu Pos Bergambar Buitenzorg, Kamis (13/3/2025).

Fadli Zon menyoroti pentingnya perangko dan kartu pos sebagai alat diplomasi kebudayaan. "Kartu pos bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium penting dalam diplomasi budaya, yang dapat memperkenalkan sejarah, kekayaan alam, seni, dan tradisi Indonesia ke seluruh dunia," ujarnya.

Peluncuran buku “Kartu Pos Bergambar dari Buitenzorg” yang ditulis oleh Fadli Zon bersama Mahpudi mengangkat kisah Kota Bogor pada masa Kolonial Belanda melalui kartu pos sebagai medianya.

Baca Juga: BEM Universitas Hangtuah Pekanbaru Salurkan Bantuan Bagi Korban Terdampak Banjir Rumbai

Buku ini memuat 179 koleksi kartu pos yang menggambarkan berbagai ikon kota seperti Istana dan Kebun Raya, serta kehidupan masyarakat pada masa kolonial. Buku setebal 166 halaman ini telah meraih penghargaan medali emas dalam Pameran Filateli Nasional (Panfila) 2025.

Fadli Zon menjelaskan bahwa buku ini bertujuan untuk mengabadikan jejak sejarah Bogor antara tahun 1890 hingga 1930, serta mengajak pembaca merenungkan perkembangan kota dan masyarakat pada masa itu. "Melalui buku ini, kita ingin menjelajahi sejarah Bogor dan menggali lebih dalam mengenai perkembangan kota pada masa Hindia Belanda," jelasnya.

Menteri Kebudayaan berharap bahwa kegiatan ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal dan menjaga warisan budaya, serta memahami nilai sejarah yang terkandung dalam koleksi kartu pos dan benda pos lainnya.

Baca Juga: 6 Tips Berkendara Aman dan Nyaman CDN Riau Selama Ramadan, Jangan Abaikan Ya!

“Diplomasi budaya melalui perangko dan kartu pos dapat membangun narasi positif tentang Indonesia. Setiap gambar dan desain yang tercetak di dalamnya menceritakan kisah keberagaman dan kekayaan budaya kita,” paparnya.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari upaya melestarikan sejarah serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan, khususnya dalam bentuk benda-benda pos.

Kementerian Kebudayaan terus mendorong kolaborasi antar pemerintah, filatelis, seniman, serta komunitas pecinta sejarah untuk menjaga dan mempromosikan warisan budaya ini serta memperkenalkannya kepada generasi mendatang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hasmawi RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X