Kecam Aksi Pembakaran Al-Quran di Swedia, Erdogan Melawan Organisasi Teroris Adalah Sikap Kami

photo author
Fadly Ibrahim, Riau Makmur
- Kamis, 6 Juli 2023 | 10:55 WIB
Kecam Aksi Pembakaran Al-Quran di Swedia, Erdogan Melawan Organisasi Teroris Adalah Sikap Kami
Kecam Aksi Pembakaran Al-Quran di Swedia, Erdogan Melawan Organisasi Teroris Adalah Sikap Kami

RIAUMAKMUR.COM — Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan secara tegas masih menyerukan kecaman terhadap Swedia yang memberi izin atas aksi pembakaran Al-Quran pada 28 Juni 2023 lalu.

Bagi Erdogan, aksi pembakaran Al-Quran merupakan sebuah penghinaan terhadap umat Islam dunia.

Erdogan menegaskan sejak awal Pemerintah Turki telah mengambil sikap perang dengan organisasi teroris dan kelompok Islamofobia merupakan arah yang sudah jelas untuk dilakukan, dan aksi pembakaran Al-Quran di Swedia termasuk di dalamnya.

“Perlawanan itu adalah garis merah kami,” tuturnya sebagaimana dilansir dari Arab News.

Buntut dari peristiwa itu, Erdogan juga mengeluarkan sikap menolak Swedia untuk bergabung dalam organisasi NATO. Sebagai anggota, kata dia, Turki punya hak untuk mengeluarkan sikap menerima atau menolak.

Dia menyebut bahwa Stockholm masih harus berupaya keras untuk membenahi ‘rumah mereka’ jika memang serius ingin bergabung dengan NATO.

“(Membakar Al-Quran) Itu adalah tindakan rasial terhadap umat Islam dunia,” tegasnya.

"Setiap orang harus menerima bahwa persahabatan Turki tidak dapat dimenangkan dengan mendukung terorisme atau dengan memberi ruang bagi teroris."

Erdogan menyampaikan sinyal penolakan ini setelah polisi Swedia mengizinkan protes di luar masjid di Stockholm yang lagi-lagi diwarnai aksi pembakaran Al Quran seperti awal tahun ini.

Aksi yang bertepatan dengan Hari Raya Iduladha pada 28 Juni itu dilakukan oleh Salwan Momika, imigran asal Irak yang mengungsi ke Swedia sejak lima tahun lalu.

Momika berdalih pembakaran Al-Quran merupakan caranya mengekspresikan opini soal kitab suci umat Islam tersebut.

Sederet negara, seperti Arab Saudi hingga Indonesia, lantas mengecam aksi yang dianggap sebagai penistaan agama ini.

Saudi bahkan memanggil duta besar Swedia di Riyadh untuk menyampaikan protes. Mereka mendesak Swedia agar tak membiarkan aksi-aksi semacam ini terjadi lagi.

Menyusul aksi ini, Erdogan mengatakan "ketimbang buang-buang waktu dengan taktik gangguan, kami percaya bahwa menepati janji akan menjadi metode yang lebih rasional dan lebih bermanfaat."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Fadly Ibrahim

Sumber: Arab News, CNN Indonesia

Tags

Rekomendasi

Terkini

X