Heboh Soal Kasus Penyakit Antraks di Gunung Kidul, Ini Kata Kemenkes RI 

photo author
Fadly Ibrahim, Riau Makmur
- Senin, 10 Juli 2023 | 19:59 WIB
Ilustrasi sapi kurban ASN Pemprov Riau.
Ilustrasi sapi kurban ASN Pemprov Riau.

RIAUMAKMUR.COM — Belakangan publik tengah dihebohkan dengan kasus penyakit antraks di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Kasus penyakit antraks di Gunung Kidul diketahui telah menewaskan tiga orang setelah mengonsumsi daging sapi yang positif penyakit itu.

Kasus penyakit antraks di Gunung Kidul, diketahui juga telah menular ke banyak warga, karena penyakit ini memang dapat menular dari hewan ke manusia. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan kasus baru penyakit antraks yang menewaskan tiga orang setelah menyantap bangkai daging sapi di Dukuh Jati, Kelurahan Candirejo, Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Akibat menyantap bangkai daging sapi yang positif penyakit antraks itu ketiganya dilaporkan meninggal dunia pada Mei hingga Juni 2023 lalu. Dari tiga kasus yang meninggal, satu kasus dilakukan pengambilan sampel dan diagnosis suspek antraks.

Ketiga dilaporkan mengonsumsi daging sapi yang positif penyakit antraks setelah menggali kuburan sapi yang mati mendadak, lalu menyantapnya.

Sejak tanggal 18 hingga 26 Mei 2023 terjadi kematian mendadak pada sejumlah hewan ternak berupa sapi dan kambing milik warga Dukuh Jati. “Hewan ternak yang mati itu lalu dipotong dan dibagikan ke warga untuk dikonsumsi,” bunyi keterangan resmi yang dikeluarkan Kemenkes RI sebagaimana dilansir dari laman resminya, Senin, 10 Juli 2023.

Salah satu warga WP yang sempat memotong hewan ternak yang mati mendadak itu mengeluhkan demam, pusing, batuk, pembengkakan kelenjar dan perut bengkak. 

Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunung Kidul lantas melakukan pengambilan sampel pada tanah tempat WP memotong hewan tersebut untuk diteliti.

Hasilnya pada 1 Juni 2023 telah diketahui positif spora antraks dari sampel tanah yang diambil.

Pada 3 Juni 2023, WP akhirnya dirujuk ke RS Sardjito lalu dilakukan pengambilan sampel darah dengan diagnosis suspek antraks. Sehari setelahnya WP dinyatakan meninggal.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Imran Pambudi, MPHM mengatakan Organisasi Pemerintah Daerah terkait bersama Satgas One Health Kecamatan Semanu memberikan pengobatan profilaksis kepada populasi terpapar untuk pencegahan.

“Hingga saat ini ada 125 orang yang diberikan pengobatan profilaksis di Gunung Kidul, 87 diantara mereka berstatus seropositif,” katanya.

Seropositif artinya pasien pernah terpapar antraks, tapi tanpa gejala klinis Hal itu disebabkan karena di dalam tubuhnya sudah terbentuk antibodi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Fadly Ibrahim

Tags

Rekomendasi

Terkini

X