berita

Jejak Perjuangan Veteran: Konfrontasi Malaysia hingga Operasi Seroja

Jumat, 10 November 2023 | 19:45 WIB
Ilustrasi pahlawan dan veteran.

RIAUMAKMUR.COM - Kemerdekaan yang diraih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tentu saja tidak bisa dilepaskan dari sosok pahlawan dan veteran. Perjuangan mereka dalam meraih dan menjaga kemerdekaan harus dihargai.

Seperti pernah diucapkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno, pada pidatonya masa itu, "Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya".

Veteran secara garis besar merupakan warga negara Indonesia yang bergabung dalam kesatuan bersenjata resmi.

Mereka diakui oleh pemerintah dan berperan aktif terhadap kegiatan perjuangan menghadapi penjajah. Dalam Undang-undang (UU) Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia, veteran ditentukan berdasarkan peristiwa keveteranan.

Berdasarkan UU No 15 tahun 2012 Pasal 3 ayat (2), jenisnya ini terbagi dari veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, veteran pembela kemerdekaan Republik Indonesia, veteran perdamaian Republik Indonesia, dan veteran anumerta Republik Indonesia. Perjuangan mereka tersebar ke seluruh nusantara termasuk di daerah Riau.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Riau Letkol (Purn), HM Toyib

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Riau Letkol (Purn), HM Toyib mengatakan, berbagai peristiwa kerap terjadi setelah Indonesia merdeka. Sehingga para veteran harus waspada untuk melindungi bangsa.

Toyib menceritakan, di mana pada tahun 1965 ia mendapatkan penugasan untuk menjaga kawasan Sumatera terhadap Konfrontasi Indonesia - Malaysia.

"Penugasan saya itu pada tahun 1965 untuk konfrontasi dengan Malaysia. Peristiwa ini terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia di tahun 1962 - 1966,” katanya di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Dharma, Kota Pekanbaru, Jumat (10/11).

Dijelaskannya, peristiwa tersebut menjadi pengalaman membekas baginya. Ketika itu, ia baru saja menyelesaikan tugas di Pulau Jawa. Namun, langsung ditugaskan kembali di Sumatera, sehingga tak bisa pulang bertemu keluarga. Meski begitu, tugas membela negara tetap dilaksanakannya.

“Tentunya hal ini sangat membekas bagi saya. Karena dulu itu saya baru usai menyelesaikan operasi di Pulau Jawa, tentu harapannya balik ke Riau untuk pulang. Namun, malah ditempatkan tugas sebagai pengamanan di wilayah Sumatera ini,” jelasnya.

Diungkapkan Toyib, bahwa pada tahun 1965 ia ikut berjuang menjaga NKRI di Sumatera dalam rangka Konfrontrasi Malaysia. Ia menjaga perbatasan negara di Kota Dumai.

“Pada waktu itu Kota Pekanbaru masih hutan, tidak seperti sekarang ini yang sudah maju. Kita melaksanakan perjalanan ke Kota Dumai dengan berhati-hati. Selama satu bulan penuh jauh dari keluarga, kita berjaga di perbatasan mengatisipasi penyerangan musuh. Alhamdulillah bisa terkendali,” ungkap Toyib.

Sementara itu, Veteran asal Riau, Sutresno Sukartono berbagi pengalamannya kepada Media Center Riau saat mendapatkan kepercayaan di tugaskan pada Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1975. Ia ungkapkan, selama perjuangannya di sana banyak sekali melihat pejuang yang gugur.

“Selama masa perjuangan, yang sangat saya ingat saat Operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1975. Banyak pejuang kita gugur saat itu, dan itu saya melihatnya secara langsung,” terangnya.

Halaman:

Tags

Terkini