RIAUMAKMUR.COM - Sebagai keprihatinan, solidaritas dan ikut merasakan penderitaan warga Palestina, tanpa instruksi Pemerintah Amerika Serikat umat kristen Palestina di negara tersebut putuskan untuk tidak merayakan Natal.
Ini dilakukan karena kelompok tersebut merasa berduka atas penderitaan yang sedang berlangsung di Gaza.
Kelompok diaspora asal Palestina ini tidak melakukan dekorasi yang meriah di gereja untuk merayakan hari raya Natal.
Kebahagiaan merayakan hari besar dirasa sebuah kesalahan saat sesama warga negara dibantai penjajah Israel.
“Tidak ada kegembiraan saat ini tidak ada kegembiraan yang bisa didapat, tidak ada kegembiraan yang bisa didapat. Bagaimana dunia bisa benar-benar merayakan Natal dan merayakan kelahiran pangeran perdamaian, ketika di tanah air dan di tempat ia dilahirkan, terjadi kejahatan keji terhadap kemanusiaan tanpa ada tindakan yang dilakukan untuk menghentikan?,” kata Arraf, ibu dua anak asal Palestina yang tinggal di Detroit, Amerika Serikat.
Para aktivis dan warga Amerika keturunan Palestina mengambil contoh dari Palestina dimana banyak gereja dan komunitas Kristen membatalkan perayaan Natal.
Ini jadi bentuk menghormati orang mati dan memprotes kekerasan Israel yang terus berlanjut.
Baca Juga: Zulkifli Hasan Minta Kader PAN di Riau Bekerja Keras, Temui Pemilik Suara, Bukan Pergi ke Dukun
Tempat kelahiran Yesus di Tepi Barat biasanya disetiap perayaan Natal akan di hias meriah, namun tahun ini kemeriahan itu tiada.
Tradisi Natal terkait erat dengan Palestina. Daerah ini adalah rumah bagi beberapa tempat paling suci dalam agama Kristen, termasuk Gereja Kelahiran di Betlehem dan Gereja Makam Suci di Yerusalem Timur yang dianeksasi.
Sumber: https://mediaindonesia.com/internasional/637424/rela-tidak-rayakan-natal-untuk-hormati-penderitaan-warga-palestina