RIAUMAKMUR.COM- Kondisi kelapa di Indonesia saat ini didominasi 98,93 persen perkebunan rakyat, namun dalam pengembangannya tentu tak mudah, dihadapkan berbagai tantangan, salah satunya, serangan OPT seperti kumbang tanduk/badak (Oryctes rhinoceros), kumbang janur (Brontispa longissima), belalang Sexava spp. dan ulat daun Artona catoxantha, bahkan ditambah adanya cekaman iklim ekstrim.
Menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan sigap membina dan bantu pekebun menjaga produksi maupun produktivitas kelapa.
Kelapa masih diminati pasar global, bahkan semakin populer, karena semua bagian dari tanaman itu dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomi.
Baca Juga: Kementan Minta Bulog Fokus Serap Gabah dan Jagung Petani
“Diperlukan peran aktif pemerintah untuk mendorong kesadaran dan kepedulian serta keikutsertaan pekebun dalam melakukan pengendalian OPT di kebunnya,” ujar Direktur Jenderal Perkebunan Andi Nur Alam Syah dalam keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu (6/4/2024).
Andi Nur menekankan, tantangan terkait OPT wajib diselesaikan dan dikendalikan secara tepat dengan sinergi dari semua pihak. “Untuk suksesnya program perkebunan, saya sangat mengharapkan dukungan dari seluruh pihak terkait, karena perlindungan perkebunan mempunyai peranan sangat besar terutama dalam pengawalan/penyelamatan tanaman dari serangan OPT,” ujarnya.
Menurut Andi Nur, pentingnya kehadiran petugas POPT, untuk lakukan pendampingan dan pembinaan pekebun agar bisa memberikan solusi tepat guna bagi kendala dilapangan. Untuk itu dibutuhkan pemahaman dan kapabilitas para petugas teknis, khususnya POPT di bidang pengendalian OPT Tanaman Kelapa.
Baca Juga: Pompanisasi dan Pipanisasi Sawah, Kementan Bidik Sungai-Sungai Besar di Pulau Jawa
Demi wujudkan hal tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan gandeng Pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), gelar Bimbingan Teknis Peningkatan Kapabilitas Penanganan OPT Tanaman Kelapa, beberapa waktu lalu.
Para POPT dibekali dengan Implementasi Good Agricultural Practices (GAP) budidaya tanaman kelapa, Teknologi Pengamatan dan Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Kelapa, hingga Praktik Pengamatan dan Pengendalian OPT pada Tanaman Kelapa, yang dilakukan di Kebun Kelapa Kopyor PPKS Unit Bogor.
Mewakili Direktur Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Dedy Aminata mengatakan, untuk meminimalkan kehilangan hasil akibat serangan OPT, perlu dilakukan pengendalian OPT tanaman kelapa secara berkelanjutan. “Pengendalian dilakukan agar luas areal terserang OPT menurun, dan diharapkan petugas POPT dapat memantau dan melaporkan keadaan serangan secara rutin,” ujarnya.
Baca Juga: Ketua MPR Apresiasi Kementan Tingkatkan Alokasi Bantuan Subsidi Pupuk bagi Petani
Lebih lanjut Dedy mengatakan, “Diharapkan kedepannya petugas POPT lebih meningkatkan kinerja dan semakin tanggap dalam mencegah maupun mengendalikan OPT, sehingga bisa memberikan solusi strategis bagi kendala yang dihadapi pekebun saat mengelola kebunnya, dan bantu pekebun tingkatkan produktivitas serta kualitas tanaman kelapa Indonesia terus terjaga,” ujarnya. ***