berita

BRIN Nilai Komoditas Mineral Kritis dan Strategis Perlu Dikelola dengan Bijaksana

Rabu, 29 Mei 2024 | 19:05 WIB
Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amarulla Octavian

RIAUMAKMUR.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai perlu dilakukannya pengelolaan dengan bijaksana terkait komoditas mineral kritis dan strategis.

Dikutip dari siaran pers BRIN, Rabu (29/5/2024), Pemerintah Indonesia telah menetapkan 47 komoditas mineral yang masuk dalam klasifikasi mineral kritis. Sehingga, kebijakan dan strategi perlu dilakukan untuk menjaga pasokan komoditas mineral strategis yang jumlahnya tidak banyak atau terbatas, agar dapat mendukung program transisi energi.

Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk sumber daya mineral dan logam strategis. Di antara kekayaan tersebut, material-material seperti nikel, besi, logam tanah jarang (LTJ), tembaga, kobalt, dan titanium menonjol sebagai komoditas utama dalam mendukung industri nasional.

Baca Juga: Puncak Peringatan HLUN ke -28, Dinsos Jatim Bagikan 2.800 Bunga Mawar

Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyatakan, ketersediaan material-material strategis tersebut pada suatu titik akan mengalami penurunan dan mengarah pada keadaan kritis jika tidak dikelola dengan bijaksana.

“Dengan mengelola sumber daya alam yang dimiliki secara efektif, Indonesia dapat mengurangi dampak lingkungan yang terkait dengan impor material dan mempercepat pembangunan berkelanjutan,” ujar Amarulla.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN, Efendi menyampaikan, sebaiknya, produksi nikel untuk ekspor dibatasi antara 30 hingga 40 persen. Sedangkan sisanya bisa dipakai untuk industri di dalam negeri. Selain itu, perlunya mengembangkan produksi nikel untuk baterai mobil listrik, paduan produk nikel dan serbuknya, dan pengembangan industri senyawa nikel.

Baca Juga: 14 Stan Bazar Ramaikan Peringatan HLUN ke-28 Jatim

“Untuk pengembangan industri nikel diperlukan diversifikasi produk selain stainless steel dan baterai listrik. Selain itu, perlunya dorongan regulasi yang bisa menjamin kondusivitas industri nikel di Indonesia,” ujar Efendi.

Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Material Maju BRIN, Wisnu Ari Adi menjelaskan, LTJ merupakan material kritis dunia karena dinilai memiliki prospek strategis di masa depan.

“Proyeksi kebutuhan akan LTJ di dunia meningkat seiring dengan pengembangan energi hijau atau energi yang bersifat lebih ramah lingkungan,” ujar Wisnu.

Baca Juga: Forum Persandian : Kominfo Jatim Ajak Tingkatkan Keamanan SPBE dalam Data Pribadi

Sedangkan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN, Andika Widya Pramono, menyampaikan terkait tantangan dalam proses hilirisasi berbagai mineral strategis seperti tembaga, kobalt, dan titanium. Diantaranya, intensif serta kebijakan pemerintah seperti fiskal dan non-fiskal. Serta, tembok perdagangan yang dibangun negara lain, khususnya Uni Eropa yang melarang atau membatasi produk-produk dari luar.

“Diperlukan strartegi yang tepat dan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi. Sehingga, bisa memaksimalkan potensi sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif,” ujar Andika.

Tags

Terkini