"Kami mendesak agar dilakukan tes DNA untuk mengetahui siapa pemilik sperma, karena ini menyangkut kejelasan hukum," tegas Pazri.
Karena keterbatasan fasilitas forensik di Kalimantan Selatan, pihak keluarga mengusulkan agar pengujian DNA dilakukan di luar daerah demi memastikan akurasi hasil.
Kasus ini terus menjadi sorotan masyarakat. Serangkaian bukti baru yang bermunculan kian memperjelas dugaan bahwa Juwita tak hanya menjadi korban pembunuhan, tetapi juga kekerasan seksual yang dilakukan secara berulang oleh pelaku.