berita

Begini Inovasi 'Ecobrick' dari SMPN 23 Pekanbaru, Bisa Ubah Limbah Plastik Jadi Perabotan Hingga Batako

Selasa, 23 Mei 2023 | 17:35 WIB
Ida Yulita Susanti saat kunjungan ke SMPN 23 Pekanbaru, duduk di atas kursi dan meja dari ecobrick.

RIAUMAKMUR.COM, PEKANBARU- Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Ida Yulita Susanti, mengapresiasi progam 'Ecobrick' yang dilakukan oleh SMPN 23 Kota Pekanbaru dalam menjaga lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Ida Yulita Susanti saat berkunjung ke SMPN 23 Pekanbaru, yang berada di Jalan Garuda Sakti Km 3 ini, Selasa (23/5/2023).

Menurut Ida Yulita Susanti, program Ecobrick yang dijalankan SMPN 23 Pekanbaru ini bisa menjadi motivasi bagi sekolah lain.

Ecobrick yang siap dibentuk menjadi kursi dan meja.

SMPN 23 Pekanbaru sendiri berhasil mengolah limbah sampah plastik menjadi sesuatu yang berguna, seperti meja, kursi, vas bunga, hingga batako.

Selain itu, ecobrick yang dibentuk menjadi meja dan kursi dilanjutkan dengan finishing berupa pembalutan oleh UMKM dari wali murid. 

Baca Juga: Ingin Berbuat Lebih Banyak Untuk Masyarakat Pekanbaru, Ida Yulita Susanti Bulatkan Tekad Menuju DPRD Riau


Dikatakan Ida, sekolah ini berhasil memberdayakan anak muridnya untuk menciptakan karya-karya yang berbahan dasar sampah plastik.

Dalam kunjungan ini, Ida juga diajak berkeliling sekolah, termasuk melihat gazebo yang dibuat tanpa batu bata, melainkan terbuat dari batako berbahan dasar ecobrick.

Gazebo yang merupakan hasil dari ecobrick.


Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biological. Ecobrick ini adalah teknologi berbasis kolaborasi yang menyediakan solusi limbah padat tanpa biaya untuk individu, rumah tangga, sekolah, dan masyarakat.

Baca Juga: Meski Perempuan, Ida Yulita Susanti Pastikan Tak Gentar Perjuangkan Nasib Pedagang Pasar di Kota Pekanbaru

"Jadi, sampah-sampah plastik ini dibersihkan, baik botol air mineralnya maupun kantong plastiknya. Kantong plastik tadi dipadatkan ke dalam botol air mineral, sehingga botol menjadi kuat, ini yang kemudian dijadikan berbagai produk," ujar politisi Partai Golkar ini.

Misalnya, jelas Ida, botol yang sudah dipadatkan dan disusun dan membentuk kursi dan meja. Lalu dilapisi dengan busa yang dilapisi kain sofa jenis kulit maupun beludru.

"Kursi dan meja ini sangat bagus, karena kuat menahan beban dan ringan, sehingga mudah dipindah-pindahkan. Makanya saya beli satu set untuk dibawa ke rumah, saya mau mempromosikan ini kalau ada kegiatan kumpul-kumpul bersama masyarakat," jelas Anggota DPRD Kota Pekanbaru dua periode ini.

Baca Juga: Tentang Buk Ida Yulita Susanti dan Komitmen Hashtag 'Ida Golkar Membangun Kampung'

"Saya dan pihak sekolah ini punya misi yang sama, yaitu bagaimana menjaga lingkungan. Saya juga punya program pribadi untuk melestarikan lingkungan, mungkin nanti akan saya coba padukan, intinya gerakan-gerakan peduli lingkungan begini harus dimasifkan terus," terangnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 23 Pekanbaru Dr Edi Suhendri M.Si menyebutkan, pemanfaatan limbah plastik menjadi barang-barang bermanfaat sekolah tersebut telah mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Bahkan sudah dikunjungi pihak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

“Ini sudah berjalan selama dua tahun. Idenya berdasarkan hasil pengamatan saya, kebetulan disertasi saya tentang limbah sampah plastik, saya melihat banyak sampah yang terbuang di jalan-jalan, itulah yang menginspirasi kami untuk membuat sesuatu untuk karya siswa. Ternyata hasilnya luar biasa dan mendapat tanggapan positif dari banyak kalangan,” jelas Edi Suhendri.

Baca Juga: Didominasi Tim 'Ida Golkar Membangun Kampung', Golkar Riau Daftarkan Bacaleg DPRD Provinsi ke KPU


Lebih jauh, ia menjelaskan semua ecobrick yang menjadi bahan dasar karya ini dibuat langsung oleh siswa, dimana sekolah selalu meluangkan waktu sekitar 30 menit untuk membuat ecobrick.

"Jadi, setiap siswa kita intruksi membawa sampah plastik sendiri, nanti secara serentak mereka membuat ecobrick," tambahnya.

Ia mengaku program ini tidak ditujukan untuk menghasilkan uang. Tapi karya-karya siswa ini telah mampu mengumpukan pendapatan bagi OSIS. Hasil tersebut juga mampu menutupi kebutuhan anggaran BOS di sekolah.

Baca Juga: Fokus Jalankan Tugas Sebagai Gubernur Riau, Syamsuar Batal Nyaleg di Pemilu 2024

“Sejauh ini sudah puluhan unit yang terjual, hasilnya masuk ke kas OSIS untuk membeli peralatan diperlukan. Kami juga sudah menyediakan bank sampah bagi siswa dan orang tua bahkan masyarakat sekitar. Mereka bisa menukarkan botol botol bekas dengan uang, harganya bervariatif,” sebut Edi Suhendri lagi.

Edi yakin bila karya ecobrick ini kedepan dapat berkembang. Karena bahan baku seperi material bangunan yang memanfaatkan kekayaan alam bakal sulit dipoduksi.

"Contohnya kebutuhan bangunan, produksi batako biasa mungkin akan mengalami kendala dalam beberapa tahun kedepan, dan harganya bisa semakin mahal. Makanya, kita berharap agar batako dari ecobrick ini bisa jadi syarat izin bangunan, apalagi ketahanannya bisa menahan bangunan tingkat tiga," tutupnya.***

Tags

Terkini