Tahun 1869 Pemerintah Hindia Belanda kembali melakukan percobaan kedua dengan menanam sawit di Palembang, tepatnya di Muara Enim.
Langkah yang sama juga dilakukan di daerah Musi Ulu tahun 1870, dan Belitung tahun 1890. Hasilnya masih sama, minyak yang dihasilkan masih jauh dari harapan.
Ketika itu mereka menganggap bahwa cuaca di daerah-daerah tak cocok untuk tanaman sawit. Sama seperti di Banten.
Lalu, perusahaan perkebunan kelapa sawit skala jumbo pun dibuka untuk kali pertama tahun 1911. Luas perkebunannya 5 ribu hektar lebih.
Dimotori oleh sebuah perusahaan milik Adrien Hallet asal Belgia dan K. Schadt, di Pantai Timur Sumatra (Deli) dan Sungailiat, Aceh, melalui perusahaannya yang bernama Sungai Liput Cultuur Maatschappij.
Luasnya terus bertambah, seiring dengan bertambahnya jumlah perusahaan yang tertarik untuk bisnis kebun sawit. Di tahun yang sama tercatat ada 7 perusahaan perkebunan sawit yang semuanya milik asing.
Tahun 1912, di Aceh Timur ada 18 konsesi perkebunan karet dan kelapa sawit, lalu ditambah menjadi 20 perusahaan perkebunan pada tahun 1923, dengan rincian 12 adalah perusahaan perkebunan karet, tujuh perkebunan kelapa sawit dan satu perkebunan kelapa.
Perkembangan kebun sawit ini juga tak lepas dari sebuah organisasi bernama AVROS (Algemene Vereneging voor Rubberpalnters ter Oostkus van Sumatera), sebuah organisasi sawit yang sengaja didirikan di Sumatera Utara dan Rantau Panjang, Kuala Selangor.
Sama seperti GAPKI kalau sekarang—tapi di bawah AVROS tak cuma perusahaan kebun sawit—mengakomodir berbagai perusahaan perkebunan berlandas kepentingan sama.
Lewat organisasi ini lah mereka berembuk untuk mengambil sikap atas persoalan yang muncul.
Ketika itu masalah yang dihadapi seperti kekurangan tenaga kerja, saling berkawan dengan sesama pengusaha, soal pinjam meminjam sarana transportasi untuk angkutan, hingga sampailah pada kepentingan bagaimana keberadaan mereka juga bisa dapat posisi di mata pemerintah.
Dari AVROS, hadirnya sebuah pusat penelitian perkebunan. Namanya Algemeene Proefstation der AVROS atau APA pada tanggal 26 September 1916. APA dulunya untuk kepentingan penelitian kebun karet, lalu berkembang ke sawit. Setelah itu, eksistensi sawit kian naik.
Bahkan, di tahun 1921, APA diganjar penghargaan dalam ajang 5th International of Exhibition Rubber and Other Tropical Products di London. Penghargaan sama dapat lagi pada tahun 1924 di Brussels.
Tahun 1919, ekspor perdana kelapa sawit dilakukan. Sawit-sawit ini berasal dari perkebunan Pesisir Timur Sumatera. Sayangnya volume ekspor dalam jumlah besar tak bertahan lama. Saat perang dunia pertama, produksi sawit melambat. Aktivitas penanaman kebun sawit bergairah kembali setelah depresi besar tahun 1921.
Di tahun itu, kegiatan tanam kelapa sawit gencar di mana-nama. Hingga tahun 1924, luas kebun sawit naik drastis dari 414 hektare menjadi 18.801 hektare.