RIAUMAKMUR.COM - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengingatkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam Pemilu 2024
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, terkait fatwa soal tidak menggunakan hak pilih alias golongan putih (golput) pada Pemilu 2024.
Menurut Muhammadiyah, golput hukumnya makruh, tapi mengajak orang untuk Golput, hukumnya haram.
Baca Juga: Kader Muhammadiyah Wajib Pahami dan Aktualisasikan Islam Berkemajuan Supaya tak Terinfiltrasi Ideologi Lain
Abdul Mu'ti menegaskan bahwa sikap Muhammadiyah dalam Pemilu 2024 adalah netral.
Artinya, Muhammadiyah tidak mendorong salah satu paslon capres-cawapres tertentu.
Namun, Mu'ti meminta warga Muhammadiyah untuk tetap berpartisipasi dalam gelaran Pemilu dengan tidak golput.
Baca Juga: Supaya Anak Muda Proaktif di Bidang Politik, Karmila Sari Beri Insight Baru ke Siswa SMK 3 Muhammadiyah Pekanbaru
"Bagi Muhammadiyah golput itu tidak haram, mungkin levelnya baru makruh saja lah. Tetapi kalau mengajarkan atau mengajak golput, itu yang haram menurut saya," ujar Mu'ti usai menghadiri acara Refleksi Akhir 2023 di Masjid At Tanwir Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (28/12), dilansir dari CNN Indonesia.
"Karena selain itu melanggar undang-undang, kampanye golput itu kan melanggar undang-undang, itu juga sikap di mana orang cenderung untuk antipati terhadap proses demokrasi," tambahnya.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makruh berarti 'dianjurkan untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa apabila dikerjakan'.
Sedangkan haram itu artinya 'terlarang'.
Baca Juga: PW Muhammadiyah Riau Gelar Tablig Akbar, Ada Hadiah Paket Umrah Hingga Sepeda Motor
Dalam kesempatan itu, Mu'ti juga turut menyampaikan pesan kepada masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya dalam Pilpres 2024 nanti.
"Terkait dengan pilihan pesiden dan wakil presiden, silakan warga perserikatan Muhammadiyah menentukan pilihan, melihat program-programnya, jangan hanya melihat personnya, tapi juga lihat programnya," tutur Mu'ti.
Ia berharap pemilih tidak menjadi budak cinta (bucin) terhadap sosok yang dipilih.
Baca Juga: Konsisten Dukung Anies Baswedan Sejak Pilgub DKI Jakarta, dan Terus Jadi Oposisi Pemerintah Bikin Survei PKS Melejit
Hal itu bertalian dengan rasa toleransi dengan pemilih yang berbeda pilihan.
"Tapi juga harus memberikan ruang dalam diri kita ini untuk kita berbeda dengan yang lain. Jadi jangan bucin dalam menentukan pilihan, sehingga karena bucin kemudian tidak ada ruang untuk kita ini bisa bertoleransi dengan mereka yang aspirasi politiknya berbeda dengan kita," ucap dia.
Lebih lanjut, bagi Muhammadiyah, semua peserta yang ada saat ini memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.
"Bagi kami, semuanya tentu ada plus minusnya. Tadi disampaikan Pak Haedar, kalau mau ideal ya sangat sulit, tapi jangan karena tidak ada yang ideal itu kemudian kita tidak menentukan pilihan," imbuhnya.***
Artikel Terkait
Lirik Lagu Sumebyar Ing Sukmo Madu Sarining Perwito, Kidung Wahyu Kolosebo - Sasya Arkhisna
Indonesia Tingkatkan Indeks EGDI dengan GovTech, Perpres Percepatan Transformasi Digital dan Keterpaduan Layanan Digital Nasional Telah Terbit
Polsek Pujud Sediakan Layanan Khusus Agar Warga Difabel Tidak Kesulitan di TPS
Didominasi Girl Grup, Inilah Daftar 10 Lagu Terpopuler di YouTube Music Korea Selatan Tahun 2023
Menjelang Comeback dengan Lagu Untouchable, ITZY Bagikan Teaser B-Side Mr. Vampire
Biasanya Lucu dan Kocak, Akting dan Dubbing Emosional Zhao Lusi di Drama The Last Immortal Ini Bikin Cnetz Merinding: Aku Ikut Menangis Bersamanya
Bawaslu Kota Pekanbaru Akan Rekrut 2.756 Orang Pengawas TPS, Ini Link Pendaftaran beserta Beserta Besaran Gaji
Indra Charismiadji, Jubir Anis Baswedan-Muhaimin Iskandar yang Ditetapkan Jadi Tersangka Pencucian Uang, Ternyata Punya Karir yang Mentereng
Konsisten Dukung Anies Baswedan Sejak Pilgub DKI Jakarta, dan Terus Jadi Oposisi Pemerintah Bikin Survei PKS Melejit
YG Akhirnya Konfirmasi Seluruh Anggota BLACKPINK Tak Ada yang Perbarui Kontrak Individual dengan Agensi, Knetz: Sudah Bisa Ditebak