Baca Juga: Netizen Indonesia Minta Tolong ICC Adili Kasus Kopi Sianida Jessica Wongso
Sementara itu,Peneliti Amir menjelaskan, setelah penemuan ini dipublikasikan pada 12 Oktober 2023 dalam Jurnal Zootaxa Volume 5353 Nomor 5, maka telah terdapat empat spesies endemik Oreophryne di Sulawesi.
Menurutnya, kegiatan penelitian herpetologi, termasuk survei dataran tinggi dan penelitian taksonomi tambahan masih sangat diperlukan untuk mencapai pemahaman komprehensif tentang keanekaragaman Oreophryne dan filogeografinya di Sulawesi.
“Studi taksonomi Oreophryne dan diagnosis spesies baru telah lama terhambat, karena beberapa spesies tidak ditemukan lagi sejak pertama kali dideskripsi, sehingga sebagian besar belum dipelajari,” katanya.
Baca Juga: Dumai Express Operasikan Armada Mewah Terbarunya Rute Selat Panjang Hingga Sekupang
Sebelumnya, diketahui hanya tiga spesies endemik Oreophryne ditemukan di Sulawesi. Diantaranya Oreophryne celebensis di Pegunungan Boelawa dan Lembah Totoiya, Gunung Sudara (dikenal juga sebagai Gunung Dua Saudara) di Sulawesi Utara, Oreophryne variabilis yang dideskripsikan dari Gunung Lompobatang, Sulawesi Selatan dan baru-baru ini juga dilaporkan dari Pegunungan Mekongga, Sulawesi Tenggara, dan yang ketiga adalah Oreophryne zimmeri yang diketahui hanya dari tipe lokalitasnya di Pegunungan Mekongga.
Katak Mini, Oreophryne, mencapai keragamannya di daratan New Guinea dan di pulau-pulau sekitarnya. Genus ini juga meluas ke wilayah Wallacea di Maluku, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil, Lombok, Sumbawa, Komodo, Rinca, dan Flores, bahkan sampai ke kawasan Oriental di Bali, dan Kepulauan Filipina bagian selatan Mindanao dan Biliran.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, genus ini mungkin telah bermigrasi dari New Guinea ke Asia Selatan.
Baca Juga: Ditengah Isu Gibran Rakabuming Bakal Jadi Cawapres Prabowo Subianto, Kaesang Kunjungi Golkar
Secara morfologi dan ekologis, Oreophryne memang beragam, namun pada dasarnya bersifat scansorial dan arboreal. Oleh karena itu, banyak spesies yang dideskripsikan memiliki cakram digital yang membesar dengan kaki belakang yang relatif panjang sebagai adaptasi untuk memanjat.
Sebagai informasi tambahan, amfibi Sulawesi yang menghuni dataran rendah hingga pegunungan saat ini menghadapi ancaman, berupa hilangnya habitat di pulau ini dan perubahan iklim global.
Oleh karena itu, eksplorasi herpetologi (khususnya taksonomi) tetap menjadi prioritas di wilayah yang terkena dampak. Pekerjaan seperti ini juga akan mendukung keanekaragaman hayati dan upaya konservasi para pemangku kepentingan di pulau ini.
Artikel Terkait
Plot Twist Penemuan Mayat di Danau Buatan, Yang Mengaku Juga Jadi Korban Adalah Tersangkanya
Budidaya Kodok Konsumsi, Cara Menentukan Indukan, Sistem Pemijahan hingga Proses Perkawinan
Antropolog Dua Negara Ini Lakukan Penelitian ke Tuyul dan Kuntilanak, Begini Hasilnya
Penemuan Mayat di Perhentian Raja, Ternyata Memiliki Riwayat Epilepsi
Warga Desa Sungai Jalau Kampar Dihebohkan Dengan Penemuan Mayat