RIAUMAKMUR.COM-, Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar memiliki permasalahan dan tantangan air tanah. Hal itu membuat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komite Nasional Indonesia Program Hidrologi Internasional (IHP) UNESCO dengan mengadakan workshop "Managing Aquifer Recharge and Sustaining Groundwater Use through Village-level Intervention (MARVI)".
Dikutip dari Humas BRIN pada Sabtu (16/3/2024), Ketua IHP UNESCO, Budi Heru Santoso, menyampaikan bahwa permasalahan air tanah ini disebabkan dari beberapa faktor seperti adanya eksploitasi air tanah, polusi, dan permukaan air tanah yang terus menurun.
"Hingga saat ini, permasalahan air tanah di Indonesia menjadi tantangan besar untuk diselesaikan. Selain permukaan air tanah yang terus menurun, polusi, dan eksploitasi air tanah untuk konsumsi masyarakat menjadi permasalahan yang semakin serius, sehingga perlu segera ditangani,” ujar Budi.
Baca Juga: Kemenag Gandeng BRIN dan UNESCO Perkuat Literasi Kebencanaan Berbasis Masjid
Salah satu peneliti Pusat Penelitian Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) BRIN, Budi, mengatakan bahwa program workshop MARVI diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas sumber daya manusia terkait pemantauan air di Indonesia.
Ia juga menjelaskan bahwa bahwa MARVI merupakan program IHP UNESCO terkait pemantauan air tanah di India yang melibatkan partisipatif aktif di tingkat desa.
Sementara, peneliti PRLSDA yang lain, Rachmat Fajar Lubis, menyampaikan jika kegiatan tersebut menjadi peluang bagi BRIN yang berkolaborasi dengan mitra untuk membuat proposal awal yang akan digunakan untuk menjalankan program, serta mengidentifikasi lokasi percontohan utama pemantauan air tanah serta adanya partisipatif.
Baca Juga: Kab. Belu Catat Dua Kasus Positif Rabies, Dinas Peternakan Perketat Pengawasan
Professor ahli di bidang air dan keberlanjutan lingkungan, Basant Maheswari yang menjadi salah satu narasumber workshop menjelaskan proyek MARVI akan menggunakan pendekatan transdisipliner, yakni prinsip pendekatannya untuk memahami dan mengembangkan ilmu pengelolaan air tanah melalui pendekatan tim.
"Dalam proyek ini, kami memiliki peneliti dari berbagai disiplin. Mereka menyumbangkan keahlian di bidang pengelolaan air tanah, namun pada tingkat yang sama mereka bekerja di luar disiplin ilmu mereka sendiri.
Kami berupaya memahami kompleksitas keseluruhan proyek, bukan hanya satu bagian saja,” katanya.
Program MARVI memiliki tujuan untuk memastikan pasokan ketersediaan air tanah aman, sehingga bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh masyarakat.
Baca Juga: Rencana Pemasangan Chattra, Ditjen Bimas Buddha dan BRIN Lakukan Kunjungan Lapangan
Seperti saat diterapkan di India, MARVI digunakan untuk mengairi aliran irigasi dan memenuhi kebutuhan matapencaharian rakyat India. ***
Artikel Terkait
Paskul saat Ramadan Berbeda dari Hari Biasa, Tahun Ini Ada Menu Baru
Kab. Belu Catat Dua Kasus Positif Rabies, Dinas Peternakan Perketat Pengawasan
Optimisme PGN Subholding Gas Pertamina Perkuat Eksistensi Bisnis Gas Bumi dan Ketahanan Energi
Implementasi Sinergi Bagi Negeri, Capella Honda Tanam 2.000 Pohon Mangrove
EMT Padang Panjang Bawa Bantuan Pangan dan Sandang ke Pesisir Selatan
Cerita M Shabilla Alhaqim, Anak Pengembala Sapi yang Jadi Prajurit TNI
Selama Rekapitulasi Suara Pemilu 2024, Kondisi Nasional Aman Terkendali
BPJPH Buka Pendaftaran Sertifikasi Halal On the Spot Serentak di 27 Provinsi
Atasi Harga Cabai Mahal, Pemprov Riau Gelar Pasar Tani
Petugas Lapas Pekanbaru Patroli Keliling UntukTingkatkan Keamanan