RIAUMAKMUR.COM - Titik awal usahanya dimulai pada akhir 2020, berbagai tantangan dihadapi oleh Irma Faryani, owner UMKM Buatan Tangan yang menawarkan berbagai karya rajutan. Lika liku dalam menjalankan usaha tersebut disampaikan Irma dalam perbincangannya bersama Pro 4 RRI Padang, Rabu (15/8/2024) dalam Program Pro 4 Padang x UMKM.
Berbekal kemampuan yang ia pelajari sejak kecil dari orang tuanya, Irma pun melangkah lebih jauh dalam dunia usaha. Rajutan yang awalnya hanya dibuat untuk mengisi waktu luang, kini telah menjadi bisnis yang berjalan dengan stabil.
Saat menawarkan produk rajut pertamanya seharga Rp. 25 ribu, Irma sempat merasa harga yang ditawarkan terlalu murah, namun ternyata produk tersebut sukses menarik minat pasar. Seiring berjalannya waktu, Buatan Tangan terus mengembangkan variasi produk, hingga kini memiliki sekitar 100 model tas yang berbeda.
Baca Juga: Disnakeswan Sumbar Gelar Lomba Mewarnai Bertema Peternakan
Setelah tiga tahun berjalan, UMKM Buatan Tangan yang dikelola Irma kini telah dikenal luas, terutama di kalangan pecinta tas rajut. Dengan target market kalangan menengah ke atas, tas rajut yang ditawarkan Irma dibanderol dengan harga berkisar Rp. 300ribu hingga jutaan rupiah.
Meskipun di awal perjalanannya, Irma sempat kesulitan mencari pelanggan, kini ia justru kewalahan dengan banyaknya pesanan yang datang.
"Dulu, orderan susah banget, kita cuma andalkan teman-teman terdekat. Tapi sekarang, Alhamdulillah, orderan sampai September udah penuh," ujar Irma.
Baca Juga: Perkemi Sumbar Targetkan Medali PON Aceh Sumut
Dengan meningkatnya permintaan, Irma mulai merekrut tim pengrajin. Hingga kini, Buatan Tangan memiliki 15 pengrajin yang bekerja untuk memenuhi pesanan.
"Saya mulai rekrut pengrajin tahun 2022, setelah kelahiran anak kedua. Awalnya cuma satu orang, lalu berkembang jadi 13 orang untuk rajutan dan 2 orang untuk furing," jelasnya.
Irma juga menekankan pentingnya diskusi dalam proses pembuatan tas custom. Menurutnya, kesesuaian antara ekspektasi pelanggan dan hasil akhir sangat penting.
Baca Juga: Kebanggaan Keluarga, Maulia Permata Putri jadi Paskibraka Nasional
"Kalau custom order, kita harus diskusi dulu soal warna, model, dan lain-lain, supaya hasilnya sesuai ekspektasi. Tapi itu memang lebih lama prosesnya," jelas Irma.
Tantangan ini sering kali menyebabkan keterlambatan dalam penyelesaian pesanan, yang kemudian menjadi salah satu kritik yang diterima Buatan Tangan.
"Kebanyakan kritik soal waktu pengerjaan yang lama, karena memang kalau custom butuh waktu lebih dalam pengerjaannya," pungkasnya.
Artikel Terkait
Demi Warisan ke Anak-Cucu, Pj Bupati Batang Dukung Upaya Pelurusan Sejarah Batang
Jelang Pilkada, Polres Sumenep Silaturahmi ke Ponpes Aqidah Usymuni Tarate
Polres Siak Musnahkan 7 Kg Ganja di Tualang, Peringatkan Bahaya Peredaran Narkoba
Permainan Tradisional Meriahkan HUT RI di Singkawang
Pemko Pariaman Meriahkan HUT RI dengan Beragam Acara
BRI Pastikan Salurkan KUR Sesuai Aturan dan Kehati-hatian
Tekan Kasus Kekerasan Anak di Padang melalui PATBM
Kebanggaan Keluarga, Maulia Permata Putri jadi Paskibraka Nasional
Perkemi Sumbar Targetkan Medali PON Aceh Sumut
Disnakeswan Sumbar Gelar Lomba Mewarnai Bertema Peternakan