Dengan Riset dan Inovasi, Hilirisasi Kelapa Sawit Bisa Menjadi Masa Depan Perekonomian Berkelanjutan di Indonesia

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Minggu, 6 Oktober 2024 | 13:05 WIB
Ilustrasi kelapa sawit. (Tristantan, Pixabay)
Ilustrasi kelapa sawit. (Tristantan, Pixabay)

RIAUMAKMUR.COM - Pemerintah terus berupaya mendorong pengembangan hilirisasi kelapa sawit yang berkelanjutan, dengan fokus pada riset dan inovasi.

Dengan demikian, maka sektor kelapa sawit diharapkan dapat bertransformasi menjadi industri masa depan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkualitas dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, mengatakan bahwa kelapa sawit harus menjadi model hilirisasi industri yang sukses.

Baca Juga: Dapat Pinjaman KUR BRI, Warga Pekanbaru Sukses Kembangkan Kebun Sayur dan Rambah Usaha Sawit

Apalagi saat ini produk turunan kelapa sawit, baik pangan (oleofood), non-pangan (oleochemical), bahan bakar terbarukan (biofuel), maupun material baru yang ramah lingkungan (biomaterial), telah berkembang pesat.

"Kelapa sawit menjadi contoh hilirisasi industri yang efektif, dengan lebih dari 200 jenis produk hilir saat ini, meningkat dari 45 jenis dalam sepuluh tahun terakhir," ujarnya dikutip Sabtu (5/10/2024).

Putu juga menjelaskan bahwa nilai ekspor kelapa sawit dan turunannya mencapai Rp450 triliun pada 2023, yang berkontribusi sebesar 11,6 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Baca Juga: Harga TBS Kelapa Sawit Plasma Riau Naik, Umur 9 Tahun Tertinggi dengan Kenaikan 1,14%

Secara keseluruhan, sektor ini berpotensi menghasilkan bisnis hingga Rp800 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 16,2 juta orang.

Untuk mendukung pengembangan inovasi teknologi dalam industri pengolahan kelapa sawit, Kemenperin berkomitmen untuk menyusun kebijakan yang pro-inovasi dan memfasilitasi kolaborasi antara pihak-pihak terkait dalam komersialisasi inovasi baru.

Putu menyoroti pentingnya pembentukan konsorsium multipihak dalam aktivitas riset untuk menghasilkan inovasi unggulan. Salah satu contohnya adalah teknologi edible-coating berbasis minyak sawit yang dapat memperpanjang masa simpan buah tropis.

Guna mendorong penggunaan teknologi modern, Kemenperin melaksanakan program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi, serta membangun Indonesia Manufacturing Center (IMC) untuk mendukung kolaborasi riset.

"Kami mendorong perusahaan industri pengolahan sawit untuk membangun pusat riset di Indonesia dan memanfaatkan IMC untuk mencapai komersialisasi hasil riset," imbuh Putu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X