RIAUMAKMUR.COM - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) Percepatan Penurunan Stunting (PPS) bagi guru PAUD secara hybride (kombinasi daring-luring) sebagai ikhtiar suksesnya pelaksanaan diklat teknis PPS di Kabupaten Probolinggo sesuai hasil rapat koordinasi (rakor) di Jawa Timur, pada 4-5 November 2024.
Kegiatan ini dilakukan sebagai tindaklanjut dari evaluasi capaian peningkatan peserta diklat percepatan penurunan stunting di tingkat Jawa Timur oleh Direktorat GTK Pusat, bahwa harus terpenuhi target 225 guru PAUD sebaran desa se-Kabupaten Probolinggo.
Pelaksanaan secara tatap muka (luring) dibagi menjadi 3 titik kegiatan. Yakni, Kelas Gading (4 kelas) meliputi Kecamatan Besuk, Gading, Pakuniran, Kotaanyar, Paiton, Krejengan, Pajarakan dan Krucil sebanyak 95 orang di SDN Gading Wetan Kecamatan Gading.
Baca Juga: Jadwal Wakil Indonesia di Babak 16 Besar Korea Masters 2024, Ganda Campuran Hadapi Tuan Rumah
Kelas Gending (4 kelas) meliputi Kecamatan Gending, Banyuanyar, Tiris, Dringu, Kraksaan, Tegalsiwalan dan Leces sebanyak 99 orang di SDN Pajurangan Kecamatan Gending dan Kelas Sumberasih (3 kelas) meliputi Kecamatan Sumber, Kuripan, Bantaran, Wonomerto, Lumbang dan Tongas sebanyak 55 orang di SDN Muneng Leres 1 Kecamatan Sumberasih.
Sebanyak 12 narasumber PCP, Puspaga (Konselor) dan Kepala SKB Kraksaan (narasumber yang pernah di diklat tingkat Jawa Timur dengan modul dan juknis diklat PPS terbaru dilibatkan secara aktif dalam kegiatan diklat).
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Eksi Wulandari mengatakan guru PAUD berperan untuk membantu mencegah stunting, memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin, mencatat dan melaporkan anak baru lahir hingga 2 tahun yang terdeteksi stunting kepada pusat layanan kesehatan atau Dinas Kesehatan.
Baca Juga: Petugas Lapas Pekanbaru Razia Blok Hunian dan Tes Urin Warga Binaan
“Selain itu, melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan untuk memberikan stimulasi psikososial dan perkembangan anak sesuai usia, menimbang berat badan dan tinggi badan secara rutin, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan mengatur pola makan yang seimbang,” katanya.
Eksi menerangkan stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang. “Stunting dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan pada anak dan tinggi badan anak yang terhambat,” jelasnya.
Melalui diklat PPS ini Eksi mengharapkan kualitas proses pembelajaran (kualifikasi PTK, akreditasi lembaga, jadwal pembelajaran) dan kemitraan atau kerja sama dengan orang tua (parenting, kelas orang tua, filtrip dan lain-lain).
Baca Juga: Sortir Lipat Surat Suara, KPU Bekasi Kerahkan Pengawas
“Disamping itu, pemantauan pemenuhan layanan kesehatan, gizi, perlindungan, pengasuhan dan kesejahteraan anak atau yang dikenal dengan PAUD HI (Holistik Integratif) (sinergi puskesmas, bidan desa, KB dan lain-lain) serta kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya,” harapnya.
Eksi menambahkan sebagai catatan melalui kemitraan dengan orang tua, kelompok masyarakat serta unit pelayanan lain. “Empat layanan ini dipercaya mampu membantu pencegahan (prevensi) dan penanganan (mitigasi) stunting pada anak,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Pemkot Padang Dorong Integrasi Statistik Sektoral untuk Pembangunan Berkelanjutan
Pegadaian Sosialisasikan Pentingnya Melek Investasi dan Pembiayaan Mikro di Pekanbaru
Jajaran Polri di Bengkalis Lakukan Program Ketahanan Pangan, Dukung Asta Cita Presiden Prabowo
Dinas P2PA Dorong Desa Ciptakan Lingkungan Aman bagi Perempuan dan Anak
Luncurkan Bele Mo'osehati, Rudy Salahuddin: One Stop Service untuk Masalah Gizi Anak
KB : KELUARGA BERKUASA
Arsip yang Terkelola Baik, Aset Berharga bagi Pemerintahan
Petugas Lapas Pekanbaru Razia Blok Hunian dan Tes Urin Warga Binaan
Sortir Lipat Surat Suara, KPU Bekasi Kerahkan Pengawas
Jadwal Wakil Indonesia di Babak 16 Besar Korea Masters 2024, Ganda Campuran Hadapi Tuan Rumah