Kisah Inspiratif: Melanie Perkins yang Bikin Canva Jadi Raksasa Platform Desain Meski Hanya dengan Tampilan Sederhana

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Senin, 18 November 2024 | 19:24 WIB
Potret CEO Canva, Melanie Perkins. (Dok. Forbes)
Potret CEO Canva, Melanie Perkins. (Dok. Forbes)

RIAUMAKMUR.COM - Sebagian orang menilai Canva merupakan platform yang memiliki fitur lengkap untuk menghasilkan karya desain visual yang menarik. Siapa sangka, dulunya Canva hanyalah platform yang digunakan untuk membuat buku tahunan di sekolah menengah atas (SMA) di Australia. Dikutip dari Zero To One, kini platform desain itu kian berkembang dan memiliki lebih dari 135 juta pengguna. Lantas, siapakah sebenarnya sosok di balik keberhasilan Canva menjadi salah satu platform desain yang populer di dunia? Berikut ini ulasan selengkapnya.

Awal Mula Kemunculan Canva  

Melanie Perkins dan Cliff Obrecht adalah pasangan suami istri asal Australia yang mendirikan perusahaan Fusion Books pada tahun 2007 silam. Melanie bersama sang suami dikenal mampu membuat para siswa di Australia berkreasi dalam mendesain buku tahunan sekolah mereka dengan kreatif. Seiring waktu, Fusion Books menjadi pemasok buku tahunan terbesar di Australia. Keberhasilan Melanie dan Cliff itu menarik minat seorang pebisnis, Cameron Adams, asal Amerika Serikat (AS) untuk menciptakan platform sederhana untuk para desainer. Pada tahun 2013, menjadi awal kemunculan platform Canva yang kala itu dirancang khusus untuk 50 ribu pengguna.

Baca Juga: Xianyu Literature, Cerita Fiksi yang Diangkat Penjual Barang Bekas di China Demi Menarik Perhatian Pelanggan

Platform Desain yang Sederhana  

Dalam menjalankan perusahaan Canva, Melanie bertindak sebagai CEO yang memiliki misi untuk memberdayakan setiap orang di dunia untuk mendesain apapun sesuka hati mereka. Selain itu, Melanie yang dibantu oleh Cliff dan Adams juga memiliki misi ingin melakukan kebaikan sebanyak mungkin kepada orang lain. Berkaca dari misi itu, ide tentang platform Canva ternyata sudah dirancang oleh Melanie ketika belajar tentang Psikologi dan Bisnis di Universitas Australia Barat. Fusion Books menjadi perusahaan yang menjadi bahan uji coba Melanie bersama Cliff untuk mempelajari masalah-masalah yang dialami berbagai siswa saat mendesain sesuatu. Beragam masalah tersebut kemudian perlahan dituntaskan dengan membuat Fusion Books semakin sederhana untuk digunakan para siswa. Kesederhanaan dalam Fusion Books itu menjadi tolak ukur Melanie untuk membuat Canva sebagai platform desain sederhana agar semua orang dapat mendesain apapun sesuka hati mereka.

Perjalanan Canva Menuju Kesuksesan  

Baca Juga: Ditjen Bina Adwil Kemendagri Perkuat Peran Kecamatan

Pada tahun 2013, Canva meluncur pertama kali di pasar platform desain dunia dengan diikuti oleh 50 ribu pengguna. Kemudian, pada tahun 2015, Canva meluncurkan Canva for Work (sekarang Canva Pro) yang diikuti 50 pengguna dan mampu menghasilkan 50 juta desain dengan nilai asetnya mencapai 165 juta dolar atau sekitar Rp2,6 triliun. Berbagai inovasi fitur baru mulai diluncurkan Canva pada tahun 2017, seperti animasi, desain printing, hingga peluncuran 100 bahasa.

Pada tahun 2018, Canva menjadi Unicorn atau perusahaan rintisan dengan nilai aset lebih dari 1 miliar dolar atau Rp15,9 triliun, dengan putaran investasi sebesar 40 juta dolar atau sekitar Rp636 miliar. Hingga pada tahun 2024, Canva terus mengembangkan bisnisnya. Salah satunya dengan mengakuisisi Zeetings yang dapat dipakai pengguna untuk melakukan presentasi.

Berkat keberhasilannya mendirikan Canva, kini Melanie memiliki kekayaan bersih yang mencapai 4,4 miliar dolar atau sekitar Rp70 triliun versi Majalah Forbes per tanggal 14 November 2024.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Sumber: Forbes, Zero to One

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X